- Rendi Apriyanto membiayai porsi umrah orang tua dari gaji tentara bayaran di Rusia.
- Proses pengiriman uang dari medan perang terhambat hambatan sinyal dan pemblokiran rekening.
- Rendi gugur di pertempuran Rusia–Ukraina sebelum sempat mengakhiri kontrak kerjanya pada 2027.
Suara.com - WNI tentara bayaran Rusia, Rendi Apriyanto sempat mengirimkan puluhan juta rupiah ke kampung halaman di Natuna untuk membiayai porsi umrah kedua orang uanya sebelum gugur di pertempuran Rusia–Ukraina. Pemuda yang bertugas sebagai tentara bayaran tersebut membagikan sebagian imbalan jasanya kendati sistem perbankan menuju Indonesia dihantam pemblokiran rekening.
Langkah nekat Rendi menembus garis depan pertempuran berakar dari keinginan membiayai porsi ibadah orang tuanya ketimbang membuka bengkel otomotif di kampung halaman. Impian ini mendorong pemuda asal Kepulauan Riau tersebut terbang ke Filipina lalu menuju Rusia demi mengamankan imbalan senilai ratusan juta rupiah.
Keberangkatan Rendi bersama tujuh warga negara Indonesia lainnya terdorong tawaran nilai kontrak fantastis yang langsung menghiasi rekening pribadinya. Kehadiran dana besar tersebut terkonfirmasi saat pihak keluarga diminta menandatangani dokumen persetujuan perekrutan.
Uang imbalan dalam jumlah besar langsung mengendap di rekening pribadi Rendi begitu proses administrasi pendaftaran tentara usai disetujui keluarga. Angka ratusan juta rupiah tersebut menjadi pemikat utama para pemuda Indonesia mengambil risiko tempur berdurasi enam bulan.
"Uang itu langsung masuk di rekening Rendi pak, anaknya sendiri yang menunjukan ke kami," kenang ayah Rendi Apriyanto, Ruskamal, dikutip dari Batamnews.
Gaji berlimpah di medan pertempuran justru memicu persoalan baru ketika Rendi mencoba menyalurkan dana tersebut kepada keluarga di Indonesia. Keterbatasan akses jaringan telepon serta lokasi Bank yang terisolasi memaksa Rendi bergantung penuh pada bantuan atasan militernya.
Pemblokiran akun bank yang berulang kali terjadi menuntut ongkos jasa ekstra hingga puluhan juta rupiah demi meloloskan transaksi tunai. Komandan militer yang menguasai akses kendaraan menuju kawasan perkotaan memanfaatkan situasi terbatas tersebut untuk menarik biaya tambahan.
"Itulah pak, meskipun gajinya besar, tapi dari sana payah sekali ngirim uang ke sini. Beberapa kali Rendi kirim, tapi setelah itu rekeningnya terblokir, sementara tempat Rendi susah sinyal dan jauh dari Bank, sehingga kadang kalau mau kirim uang itu terpaksa minta tolong komandanya yang punya mobil dan sering ke perkotaan. Namun Rendi harus memberi uang lebih ke komandanya tersebut hingga 30 juta," ungkap Ruskamal.
Upaya Rendi menembus barikade perbankan sempat membuahkan hasil nyata dengan mendaftarkan porsi keberangkatan ibadah orangtuanya. Dana puluhan juta rupiah berhasil masuk ke Natuna sebelum akses transaksi keuangan sepenuhnya tidak dapat digunakan.
Kesepakatan tugas tahap kedua sejatinya menjadi periode dinas terakhir yang ingin dijalaninya sebelum memutuskan pulang ke tanah air. Harapan untuk menyelesaikannya pada pertengahan tahun depan kini terhenti seiring kabar duka dari medan konflik.
Konflik bersenjata Rusia–Ukraina terus memakan korban jiwa dari kalangan personel asing yang tergiur kompensasi finansial tinggi. Kasus yang menimpa Rendi membuka tabir kelam kerentanan ekonomi pemuda daerah yang terdorong menjadi tentara sewaan di mancanegara.