IHSG Dibayangi Aksi Jual Saham AI, Perusahaan Outsourcing Justru Bersinar

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:33 WIB
Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/8), terseret aksi jual saham teknologi dan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi serta meningkatnya biaya pinjaman. Foto ANTARA.
  • Wall Street tertekan aksi jual saham teknologi dan kenaikan yield obligasi.
  • Bursa Asia ikut melemah di tengah ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga minyak.
  • IHSG berpotensi koreksi terbatas, enam saham masuk radar trading BNI Sekuritas.

Suara.com - Bursa saham global kembali berada di bawah tekanan. Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/8), terseret aksi jual saham teknologi dan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi serta meningkatnya biaya pinjaman.

Berdasarkan riset BNI Sekuritas, indeks S&P 500 turun 53,30 poin, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,33%. Dow Jones Industrial Average juga melemah 0,22%.

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, terutama saham semikonduktor. Saham Nvidia turun 2,3%, sementara Micron Technology anjlok 7%. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE bahkan merosot 5%.

Aksi jual juga menghantam saham perusahaan penyimpanan data. Sandisk dan Western Digital masing-masing turun 9% dan 7,4%. ETF Roundhill Memory turut merosot 8,8% setelah sebelumnya menguat selama lima sesi berturut-turut.

Investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham teknologi yang sebelumnya mengalami reli besar berkat lonjakan permintaan terkait kecerdasan buatan (AI). Kenaikan yield obligasi membuat valuasi saham berbasis ekspektasi pertumbuhan tinggi menjadi kurang menarik.

Tekanan pasar semakin besar setelah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak naik lebih dari 2%. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi pada obligasi pemerintah AS.

Yield Treasury AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Kondisi Wall Street tersebut turut menekan bursa Asia. Pada perdagangan Selasa (18/8), mayoritas indeks saham Asia bergerak melemah.

KOSPI Korea Selatan turun 1,55%, sedangkan KOSDAQ anjlok 3,5%. Nikkei 225 Jepang juga merosot 2,5%. S&P/ASX 200 Australia turun tipis 0,03% dan Taiex Taiwan melemah 1,2%.

Sementara itu, Hang Seng Hong Kong masih mampu menguat tipis 0,07%.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi ketegangan AS dan Iran. Ketidakpastian mengenai kelanjutan gencatan senjata dan kebuntuan negosiasi membuat investor meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko geopolitik dan dampaknya terhadap harga energi.

IHSG Berpotensi Koreksi Terbatas

Di tengah tekanan bursa global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sebelumnya justru ditutup menguat 0,76%. Namun, penguatan tersebut dibarengi dengan aksi jual bersih investor asing sekitar Rp689 miliar.

Sejumlah saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain ISAT, BBRI, DSSA, TPIA dan ASII.

Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi terbatas pada perdagangan hari ini.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com