PLN Buka 79 Proyek Panas Bumi, Kejar Tambahan Kapasitas 3,1 GW

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Pekerja menyelesaikan pekerjaan pada proyek sumur produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PT Geo Dipa Energi di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (6/9/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.
  • PLN buka 79 proyek panas bumi dengan potensi tambahan 3,1 GW.
  • Kapasitas panas bumi nasional ditargetkan tembus 7,9 GW pada 2033.
  • Pemerintah dorong panas bumi untuk kurangi ketergantungan energi fosil impor.

Suara.com - PT PLN (Persero) membuka peluang kerja sama pengembangan energi panas bumi melalui skema Geothermal Exploration & Energy Conversion Agreement (GEECA) dan Steam Sales & Energy Conversion Agreement (SECA). Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mempercepat pengembangan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Melalui kedua skema tersebut, PLN menyiapkan 79 proyek panas bumi yang berpotensi menambah kapasitas listrik hingga 3,1 gigawatt (GW).

Rinciannya, sebanyak 45 proyek akan dikembangkan melalui skema GEECA dan 34 proyek menggunakan skema SECA. GEECA ditujukan untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) milik PLN, sedangkan SECA diterapkan pada WKP non-PLN.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari target peningkatan kapasitas terpasang panas bumi nasional dari sekitar 2,8 GW saat ini menjadi 7,9 GW pada 2033, sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan pembukaan kerja sama tersebut ditujukan untuk memperluas keterlibatan mitra dalam menggarap potensi panas bumi Indonesia.

"PLN membuka kolaborasi seluas-luasnya bagi para mitra melalui skema GEECA dan SECA. Lewat kolaborasi ini, diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan panas bumi sebagai salah satu energi baru terbarukan domestik," ujar Darmawan dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (21/8/2026).

Peta jalan RUPTL 2025-2034 mencatat terdapat 110 proyek panas bumi yang masuk dalam rencana pengembangan. Dari jumlah tersebut, PLN akan mengoperasikan 25 unit dengan total kapasitas 0,6 GW.

Sementara itu, sebanyak 85 unit dengan kapasitas mencapai 4,5 GW akan dikembangkan oleh produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP).

Besarnya porsi pengembangan oleh IPP menunjukkan kebutuhan investasi dan kemitraan yang besar untuk mengejar target kapasitas panas bumi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengarahkan agar pemanfaatan energi panas bumi dipercepat. Pengembangan sumber energi tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil impor.

Pemerintah bahkan menargetkan Indonesia menjadi produsen energi panas bumi terbesar di dunia melalui Visi Panas Bumi 30.1.

Komitmen pengembangan panas bumi juga ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Izin Panas Bumi (SK IPB) Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Ungaran dari Kementerian ESDM kepada PLN dalam ajang IIGCE 2026.

Selain itu, PLN menandatangani Deklarasi Kemitraan Strategis untuk pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan kapasitas hingga 453 megawatt (MW).

Kerja sama juga diperluas melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara PLN Indonesia Power dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.

Kerja sama tersebut mencakup pembelian listrik dari proyek Lahendong Binary berkapasitas 15 MW dan Ulubelu Binary berkapasitas 30 MW.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com