Panas Bumi RI Bisa Tantang Batu Bara dan Diesel, Kapasitas Bakal Digenjot 5,2 GW

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Pekerja menyelesaikan pekerjaan pada proyek sumur produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PT Geo Dipa Energi di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (6/9/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.
  • Panas bumi dinilai mampu bersaing dengan batu bara dan diesel.
  • Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas geothermal 5,2 GW.
  • Kontribusi panas bumi ditargetkan naik dari 2,2% menjadi 4,5%.

Suara.com - Energi panas bumi (geothermal) mulai disiapkan pemerintah sebagai salah satu penantang serius energi fosil. Dengan kemampuan memasok listrik secara stabil selama 24 jam, panas bumi dinilai mampu bersaing langsung dengan batu bara hingga diesel sebagai sumber listrik.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan keunggulan utama panas bumi berada pada karakteristiknya sebagai sumber listrik baseload, yakni mampu menghasilkan listrik secara konstan tanpa bergantung pada kondisi cuaca.

"Panas bumi yang kita kenal ini nantinya sangat bisa bersaing dengan bahan bakar dari fosil, batu bara ataupun diesel karena 24 jam bisa menghadirkan listrik," ujar Eniya dalam agenda The 12th Indonesia International Geothermal Conference and Exhibition (IIGCE) 2026 di JCC, Jakarta, Rabu (19/8/2026), dikutip Kamis (20/8/2026).

Menurut Eniya, posisi Indonesia dalam pengembangan panas bumi juga terbilang kuat. Saat ini Indonesia menempati posisi kedua dunia dari sisi kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi, dengan kapasitas sekitar 2.744 megawatt (MW) hingga 2.776 MW.

Namun, kapasitas tersebut masih jauh dari potensi pengembangan panas bumi yang dimiliki Indonesia. Pemerintah pun telah memasukkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 gigawatt (GW) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) yang telah disahkan.

Jika terealisasi, tambahan kapasitas tersebut diproyeksikan meningkatkan kontribusi panas bumi terhadap bauran energi nasional dari sekitar 2,2% menjadi 4,5%.

Di tengah ambisi mengembangkan panas bumi, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) nasional saat ini masih berada di level 17%. Kontribusi terbesar berasal dari biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang mencapai 5,2%.

Setelah biodiesel, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menyumbang sekitar 3,5%, sedangkan panas bumi berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 2,2%.

Adapun energi surya masih memiliki porsi relatif kecil. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baru menyumbang sekitar 0,5% terhadap bauran energi nasional.

Karena itu, pemerintah juga mendorong pengembangan PLTS agar kontribusi energi terbarukan terhadap sistem energi nasional semakin besar.

"Nah, ini yang perlu kita berikan atensi, arahan Pak Presiden juga sudah ada pengembangan PLTS, kita harapkan itu bisa menjadi kontributor untuk menaikkan energi baru terbarukan," kata Eniya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com