- Pelaku pasar mencermati rencana demonstrasi di Gedung DPR/MPR pada Kamis, 27 Agustus 2026, yang memicu potensi profit taking.
- IHSG terkoreksi 1,48 persen ke level 6.405 pada penutupan perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026, akibat tekanan jual.
- Dampak demonstrasi terhadap pasar saham bergantung pada situasi di lapangan dan perkembangan tingkat keamanan politik selanjutnya.
Suara.com - Pelaku pasar akan mencermati kondisi Aksi demonstrasi yang rencananya berlangsung di sekitar Gedung DPR/MPR pada Kamis (27/8/2026) besok.
Bahkan, pada perdagangan besok berpotensi membuat investor memilih mengamankan keuntungan atau profit taking setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya mengalami penguatan.
Senior Analis Mirae Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan sentimen menjelang aksi demonstrasi dapat menjadi salah satu pemicu aksi profit taking dan sikap risk-off dalam jangka pendek.
"Menurut saya, sentimen jelang aksi demonstrasi besok, 27 Agustus, memang berpotensi menjadi salah satu faktor yang memicu aksi profit taking dan risk-off jangka pendek, terutama setelah IHSG sebelumnya mengalami penguatan dan investor cenderung mengamankan keuntungan menjelang potensi meningkatnya volatilitas," ujar Nafan kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).
Menurut dia, rencana aksi di sekitar Gedung DPR/MPR menjadi salah satu perhatian investor. Sebagian pelaku pasar berpotensi memilih bersikap wait and see hingga kondisi politik dan keamanan lebih jelas.
"Rencana aksi di sekitar Gedung DPR/MPR memang sedang menjadi perhatian pelaku pasar, sehingga sebagian investor bisa memilih bersikap wait and see hingga situasi politik dan keamanan lebih jelas," beber Nafan.
Kondisi tersebut dapat membuat investor lebih selektif dalam melakukan transaksi saham pada perdagangan Kamis. Terlebih, IHSG pada perdagangan Rabu (26/8/2026) ditutup melemah 1,48 persen ke level 6.405.
Meski demikian, Nafan mengingatkan pelemahan IHSG tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan sentimen demonstrasi. Menurutnya, pasar saham juga dipengaruhi berbagai faktor lain.
"Pasar saham biasanya juga dipengaruhi faktor teknikal, rotasi sektor, aksi ambil untung, arus dana asing, serta sentimen makro dan global," jelasnya.
Ia menilai dampak demonstrasi terhadap pasar saham akan sangat bergantung pada perkembangan aksi di lapangan. Jika demonstrasi berlangsung tertib dan tidak menimbulkan gangguan keamanan yang signifikan, tekanan terhadap IHSG diperkirakan tidak akan berlangsung lama.
"Sebaliknya, apabila terjadi eskalasi atau ketidakpastian politik meningkat, maka tekanan jual dapat berlanjut karena premi risiko pasar ikut naik," katanya.
IHSG Anjlok
ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kebakaran pada penutupan perdagangan, Rabu, 26 Agustus 2026. IHSG terkoreksi 95,98 poin atau 1,48 persen ke level 6.405.
Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, IHSG sempat dibuka di level 6.507 dan bergerak hingga level tertinggi 6.532. Namun, tekanan jual membuat indeks berbalik melemah hingga menyentuh level terendah 6.405.
Nilai transaksi perdagangan saham hari ini mencapai Rp17,73 triliun dengan volume transaksi sebanyak 39,04 miliar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.427.111 kali.
Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG terjadi seiring aksi profit taking pada sejumlah saham konglomerasi. Tekanan jual juga terjadi hampir di seluruh sektor saham.
Secara teknikal, koreksi IHSG membawa indeks kembali menguji area support psikologis 6.400.