Nilai Strategis Selat Hormuz Semakin Terkikis, Iran di Ujung Tanduk

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:15 WIB
Blokade Selat Hormuz oleh Iran dan Amerika Serikat membuat nilai strategis jalur laut tersebut semakin terkikis. Negara-negara Arab mengalihkan jalur ekspor minyak dari Selat Hormuz dan konsumen minyak global mengurangi ketergantungan pasokan energi dari Timur Tengah. [Google Maps/Suara.com]
  • Blokade Selat Hormuz oleh Iran dan Amerika Serikat membuat nilai strategis jalur laut tersebut semakin terkikis.
  • Negara-negara Arab mengalihkan jalur ekspor minyak dari Selat Hormuz dan konsumen minyak global mengurangi ketergantungan pasokan energi dari Timur Tengah.
  • Tekanan ekonomi yang parah akibat blokade mendorong para pemimpin Iran mendesak penghentian konflik secepatnya.

Suara.com - Nilai strategis Selat Hormuz, yang disebut-sebut sebagai urat nadi energi dunia, semakin terkikis. Blokade yang dilakukan Iran dan Amerika Serikat membuat jalur laut di Teluk Persia itu kian kurang penting secara ekonomi.

Terkikisnya nilai strategis Selat Hormuz sudah dirasakan bukan saja oleh para musuh Iran, tetapi juga telah diakui oleh para petinggi di Teheran. Kesaktian Hormuz sebagai senjata pamungkas Iran dalam perang melawan AS semakin memudar. 

Landon Derentz, analis bidang energi dan infrastruktur pada lembaga think tank Amerika Serikat, Atlantic Council pekan lalu menjelaskan blokade Iran terhadap Selat Hormuz tidak hanya mengikis nilai strategis jalur laut tersebut tapi juga merugikan Teheran dalam jangka panjang.

Penilaian senada juga disampaikan Patrick Wintour, editor senior The Guardian, dalam opininya di surat kabar Inggris itu pada pekan ini.

Iran tadinya berharap blokade Selat Hormuz akan menutup aliran minyak dari Timur Tengah -terutama dari sekutu-sekutu Amerika Serikat - dan memaksa dunia menekan Donald Trump untuk menyerah.

Awalnya rencana ini berjalan lancar, tapi seperti kata Derentz, dalam tulisannya: "Pasar energi punya jalannya sendiri. Mereka beradaptasi."

Selat Hormuz Ditinggalkan

Tak bisa mengekspor minyak via Selat Hormuz, negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait dan bahkan Irak mempercepat pembangunan infrastruktur minyak alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.

Arab Saudi misalnya mulai mengalihkan aliran minyaknya melalui pipa ke Laut Merah dan Teluk Oman. Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan bahkan Irak kini juga memilih mengalirkan minyak mereka via Teluk Oman.

Analisis dari Hamid Paktinat, pendiri Forum of Economic Activists - seperti dikutip Wintour - mengatakan jika negara-negara Arab terus memindahkan jalur ekspor minyak mereka dalam tiga tahun ke depan, maka nilai strategis Selat Hormuz akan terkikis separuhnya. Bahkan jika pemindahan jalur ekspor itu berlangsung selama 6 tahun, maka Hormuz akan kehilangan hampir seluruh nilai strategisnya.

Paktinat menganalisis kapasitas, panjang dan biaya yang dikucurkan enam negara Arab untuk membangun pipa minyak alternatif untuk menghindari Selat Hormuz selama satu sampai empat tahun ke depan.

Ia menemukan bahwa ketergantungan Arab Saudi ke Selat Hormuz akan turun dari 70 ke 15 persen; Uni Emirat Arab dari 50 ke 15 persen; Irak dari 100 ke 30 persen; Bahrain dari 100 ke 15 persen; Kuwait dan Qatar dari 100 ke di bawah 50 persen.

Sementara Oman, yang tadinya tidak bergantung pada Selat Hormuz akan menjadi negara utama yang menghubungkan minyak Timur Tengah ke dunia.

Selat Hormuz, Wintour menyimpulkan, yang menjadi senjata utama Iran selama ini akan kehilangan seluruh nilai strategisnya.

Di sisi lain, blokade Selat Hormuz, membuat negara-negara konsumen minyak mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari Timur Tengah. Ini memicu munculnya produsen-produsen minyak baru di luar OPEC yang tadinya menguasai pasar global.

Amerika Serikat, Brazil, Kanada dan Guyana perlahan-lahan menjadi pemasok minyak dunia, mengisi pasar yang ditinggalkan negara-negara Arab.

Produksi minyak dari empat negara ini belum bisa menggantikan volume dari Timur Tengah, tapi pergeseran ini perlahan mengikis nilai strategis Selat Hormuz untuk Iran.

Di saat yang sama permintaan terhadap minyak Timur Tengah dan Iran mulai berkurang. China yang tadinya jadi tujuan utama minyak Iran, sudah memangkas impor minyaknya hingga 32 persen. Masifnya penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu kunci Tiongkok mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.

Di Eropa juga terjadi pergeseran, yang tadinya sangat bergantung pada energi fosil kini mulai beralih lebih cepat ke listrik berbasis energi bersih.

Dinamika ini sudah terasa di Teheran. Dua tokoh politik utama Iran , Presiden Masoud Pezeskhian dan Ketua DPR Mohammad Bagher Ghalibaf, belum lama ini sudah secara terbuka berbicara tentang dampak ekonomi dan mendesak agar perang melawan AS disudahi.

Ghalibaf mengatakan meskipun militer Iran sangat digdaya, tapi jika rakyat kelaparan dan tidak ada pertumbuhan ekonomi, maka Iran sebagai negara tidak akan bertahan. Ia menegaskan keamanan negara tidak bsia dijaga tanpa perekonomian yang bergerak.

Sementara Presiden Pezeshkian mengatakan Iran harus menyudahi konflik dengan AS mumpung masih di atas angin.

"Perang ini harus berhenti," kata Pezeshkian.

Gubernur bank sentral Iran, Abdolnaser Hermmati juga baru-baru ini memperingatkan soal tekanan ekonomi yang dialami Iran.

"Kita menghadapi empat sampai lima tantangan utama secara bersamaan, yakni sanksi maksimum, blokade, penghentian ekspor minyak dan anggaran yang tidak berimbang," terang Hermmati dalam wawancara dengan stasiun tv Iran belum lama ini.

"Salah satu negara tetangga mengatakan, jika seperlima saja dari apa yang terjadi di negeri kita terjadi di negara mereka, maka mereka tak lagi bisa mengelola pemerintahan," imbuh dia.

Nilai mata uang Iran pada pekan ini anjlok hingga lebih dari 1,9 juta rial per dolar AS - rekor terendah dalam sejarah.

Paradoks Hormuz

Sebagai penutup, Hamid Asefi - jurnalis ekonomi di Teheran, baru-baru ini memperingatkan pemerintahnya soal apa yang disebutnya sebagai paradoks Hormuz.

Ia mengatakan jika Iran selalu menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata pamungkas dalam setiap konflik, maka keampuhannya akan memudar.

Pertanyaanya, menurut dia, bukan lagi apakah Iran mampu menutup Selat Hormuz.

"Tapi apakah dengan menutup Selat Hormuz, pintu kedigdayaan terbuka untuk Iran atau malah sebagian kedigdayaan itu tertinggal di balik pintu?" jelas Asefi.

"Inilah paradoks Hormuz. Dalam politik internasional sebuah kekuatan yang selalu digunakan bisa menjadi senjata makan tuan. Semakin sering sebuah senjata digunakan untuk mengancam musuh, maka musuh akan berusaha mengurangi kerentanan mereka terhadap senjata tersebut," imbuh dia.

Karenanya, menurut Asefi, yang harus dilakukan Iran saat ini adalah memastikan Selat Hormuz bisa dilalui dengan aman dan kembali menjadi jalur minyak utama dunia, agar seluruh dunia semakin menyadari pentingnya Iran.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com