Rupiah Melemah Imbas Kembali Memanasnya Timur Tengah

Rabu, 02 September 2026 | 19:41 WIB
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.763 per dolar AS akibat konflik Timur Tengah pada Rabu sore (2/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.763 per dolar AS akibat konflik Timur Tengah pada Rabu sore (2/9/2026).
  • Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta penguatan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
  • Analis meramalkan mata uang rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan jika harga minyak mentah dunia tetap bertahan tinggi.

Suara.com - Rupiah belum bisa keluar dari tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu sore (2/9/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.763  per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 19 poin atau turun 0,11 persen pada hari sebelumnya yang ada di Rp17.744 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah melemah disebabkan konflik di Timur Tengah yang makin memanas. Apalagi, kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan pada mata uang Garuda.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang sendirinya masih terus menguat di tengah eskalasi di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi AS," katanya saat dihubungi Suara.com

Adapun, rupiah masih diramal melemah pada esok hari. Lantaran, harga minya mentah dunia akan mengalami kenaikan yang bisa memberikan sentimen negatif pada mata uang Garuda.

"Rupiah diperkirakan masih berpotensi tertekan apabila harga minyak mentah dunia masih bertahan tinggi," tukasnya.

Mayoritaz mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah. Di mana, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,28 persen.

Selanjutnya, ada peso Filipina yang juga sudah ditutup amblas 0,25 persen, ringgit Malaysia yang tertekan 0,1 persen disusul dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen dan yuan China melemah tipis 0,001 persen terhadap the greenback,

Sedangkan won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,58 persen. Yen Jepang juga terkerek 0,32 persen, baht Thailand menanjak 0,05 persen dan rupee India naik 0,003 persen.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com