- Rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp17.711 per dolar AS di pasar keuangan pada Selasa, 1 September.
- Analis Lukman Leong menyatakan penguatan terjadi akibat dolar AS terkoreksi di tengah sikap investor yang menantikan data ekonomi.
- Sebagian besar mata uang Asia mengalami pelemahan, sementara dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar di kawasan tersebut.
Suara.com -
Rupiah menguat tipis pada pembukaan pagi ini di pasar keuangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Selasa 1 September dibuka ke level Rp 17.711 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini menguat 10 poin atau naik 0,05 persen persen pada pekan sebelumnya yang ada di Rp17.722 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah menguat karena dipengaruhi oleh dolar Amerika Serikat (AS) yang terkoreksi.
"Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan Investor cenderung wait and see menantikan data-data inflasi dan perdagangan Indonesia siang ini. Sehingga, rupiah masih bisa mendapatkan sentimen negatif dan melemah.
"Range rupiah ada di kisaran Rp17.659-17.800 pada hari ini," ucapnya.
Sementara itu,mayoritas mata uang di Asia melemah. Di mana, won Korea Selatan turun paling dalam di Asia setelah anjlok 0,22 persen.
Selanjutnya ada ringgit Malaysia terdepresiasi 0,2 persen dan baht Thailand tertekan 0,11 persen. Disusul, dolar Singapura yang terkoreksi 0,05 persen. Berikutnya, yuan China tergelincir 0,02 persen. Lalu, yen Jepang dan dolar Hong Kong sama-sama melemah tipis 0,01 persen di pagi ini.
Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,2 persen Kemudian ada peso Filipina yang terlihat menguat 0,14 persen terhadap the greenback.