Foto / News
Kamis, 03 September 2026 | 18:11 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Kepadatan lalu lintas menjadi pemandangan rutin di sejumlah ruas utama Ibu Kota, terutama saat jam sibuk.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyebut kemacetan di Jakarta dan kawasan aglomerasi menimbulkan estimasi kerugian ekonomi sekitar Rp100 triliun per tahun.

Kerugian tersebut berkaitan dengan biaya waktu dan operasional kendaraan yang terbuang akibat kemacetan. Nilainya setara sekitar 4 persen dari PDB Jabodetabek.

Dishub DKI menyebut pertumbuhan kendaraan tidak sebanding dengan penambahan kapasitas jalan. Pertumbuhan panjang jalan Jakarta hanya sekitar 0,001 persen, sementara mobilitas kawasan mencapai lebih dari 42 juta pergerakan per hari.

Pemprov DKI Jakarta mendorong peralihan dari penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi massal melalui integrasi layanan dan pengembangan kawasan berorientasi transit untuk menekan kemacetan. [Suara.com/Alfian Winanto]

Load More