- Harga minyak mentah dunia naik tiga hari beruntun hingga 8 September 2026 akibat konflik AS dan Iran.
- Serangan militer AS terhadap kapal tanker Iran memicu eskalasi konflik dan kenaikan harga gas di pasar global.
- Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan WTI untuk periode Desember 2026 serta tahun 2027.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Penguatan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut ini mendorong harga minyak menyentuh level tertinggi dalam enam minggu terakhir, dipicu kekhawatiran atas eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Mengutip dari CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman November naik 0,20 persen menjadi 97,20 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober menguat 1,07 persen ke level 92,56 dolar AS per barel.
Lonjakan harga ini menyusul serangan militer AS terhadap tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu pekan lalu.
Langkah tersebut diambil Washington setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal perang Angkatan Laut AS.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS terhadap kapal komersial tersebut dan mengategorikannya sebagai kejahatan perang serta tindakan perang ekonomi.
Analis Pasar Senior Trade Nation, David Morrison, menilai saling balas serangan ini menandai eskalasi besar yang kembali meningkatkan ketegangan kawasan.
Di sisi lain, eskalasi militer tersebut turut mendorong kenaikan harga gas hingga menyentuh rekor tertinggi baru.
Ketegangan diplomatik antara kedua negara juga terus memanas melalui pernyataan terbuka.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan aksi balasan akan terus dilakukan jika aset Iran diserang.
Pernyataan tersebut merespons gertakan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang mengancam akan menghancurkan dan menenggelamkan tanker Iran jika Tehran menembaki kapal-kapal AS.
Merespons kondisi geografis politik tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan WTI untuk periode Desember 2026 masing-masing sebesar 5 dolar AS, menjadi 85 dolar AS dan 80 dolar AS per barel.
Proyeksi untuk tahun 2027 juga disesuaikan naik menjadi 80 dolar AS untuk Brent dan 75 dolar AS per barel untuk WTI.
Goldman Sachs memperkirakan gangguan jalur pelayaran di Timur Tengah berpotensi berlanjut hingga 2027, dengan pemulihan produksi yang berjalan bertahap pada paruh kedua 2027.
"Pasar semakin memperhitungkan risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah," tulis Goldman.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa harga minyak akan merosot tajam setelah AS memenangi konflik dengan Iran.
"Harga minyak akan turun drastis ... saat kita MENANG dalam perang melawan Iran." kata Trump.