Haji Isam Masuk BYAN, RKAB 3 Tambang Dikabarkan Segera Terbit

Jum'at, 18 September 2026 | 11:28 WIB
Ilustrasi. Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja perdana dengan meninjau projek cetak sawah satu juta Ha yang saat ini digarap oleh Andi Samsudin Arsyad atau Haji Isam (Foto Ist).
BACA 10 DETIK
  • Haji Isam masuk 30% BYAN saat masalah RKAB belum beres.
  • RKAB tiga anak usaha BYAN dikabarkan segera terbit hari ini.
  • Moody's pangkas outlook BYAN, EBITDA berisiko tertekan.

Suara.com - Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam masuk ke PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan mengambil sekitar 30% saham perusahaan batu bara tersebut. Di saat yang sama, Bayan tengah menghadapi persoalan izin produksi setelah persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usahanya belum terbit.

Kini, persoalan tersebut memasuki babak baru. Sumber Suara.com menyebut persetujuan perubahan RKAB untuk tiga anak usaha BYAN akan segera terbit pada Jumat (18/9/2026), setelah perseroan sebelumnya menyatakan kondisi kahar atau force majeure akibat tertundanya persetujuan tersebut.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyatakan permohonan perubahan RKAB tiga anak usaha Bayan masih dalam tahap evaluasi. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara ESDM Tri Winarno menargetkan proses evaluasi rampung pada pekan ini.

"Karena kan lagi evaluasi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan pencermatan atau evaluasi. Yang lain kan juga sudah kelar," kata Tri di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Tiga anak usaha yang dimaksud yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima. Belum terbitnya persetujuan RKAB membuat ketiga perusahaan tidak dapat menjalankan produksi batu bara secara sah sesuai rencana, sehingga kemampuan Bayan memenuhi kewajiban pasokan kepada pelanggan ikut terdampak.

Bayan kemudian menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada pelanggan. Manajemen menyebut tertundanya persetujuan perubahan RKAB memberikan dampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan.

Persoalan RKAB menjadi semakin menarik karena terjadi bersamaan dengan masuknya Haji Isam sebagai pemegang saham besar BYAN.

Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low untuk mengambil alih 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30% dari total saham beredar.

Transaksi tersebut masih tunduk pada sejumlah kondisi pendahuluan. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, Jhonlin Baratama akan menguasai sekitar 30% saham BYAN.

Direktur BYAN Jenny Quantero menyatakan transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan.

Namun, dari sisi bisnis, persoalan yang sedang dihadapi Bayan bukan perkara kecil. Moody's Ratings pada Jumat (18/9/2026) mengubah outlook BYAN dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan rating Corporate Family Rating pada level Ba1.

Moody's menegaskan perubahan outlook tersebut bukan disebabkan masuknya Haji Isam, melainkan meningkatnya ketidakpastian terkait alokasi kuota produksi batu bara. Risiko itu semakin terlihat setelah Bayan menyatakan force majeure akibat belum disetujuinya revisi RKAB.

Moody's memperkirakan produksi Bayan dapat turun menjadi sekitar 39 juta ton pada 2026 apabila tambahan kuota produksi tidak diperoleh. Angka itu jauh di bawah produksi sekitar 68 juta ton pada 2025.

Dampaknya juga berpotensi terasa pada laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA). Moody's memperkirakan EBITDA BYAN bisa turun menjadi sekitar US$700 juta pada 2026, dari sekitar US$1,1 miliar pada 2025.

Jika produksi tetap tertahan pada level tersebut hingga 2027, EBITDA Bayan bahkan diperkirakan berada di kisaran US$400 juta-US$500 juta dengan asumsi harga jual rata-rata batu bara US$48 per ton.

Dengan demikian, titik perhatian BYAN saat ini bukan hanya harga batu bara atau perubahan pemegang saham. Kepastian berapa banyak batu bara yang dapat diproduksi justru menjadi faktor penting bagi kinerja perseroan.

Menariknya, sentimen pasar pada perdagangan Jumat (18/9/2026) justru bergerak berlawanan dengan perubahan outlook Moody's. Saham BYAN sempat melesat 19,96% ke Rp13.825 per saham atau menyentuh batas auto rejection atas

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com