Regulasi IHSG Baru dan Sentimen Suku Bunga BI: Analis Rekomendasikan Saham-saham Ini

Selasa, 22 September 2026 | 07:39 WIB
ARSIP-Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • IHSG melemah ke level 6.384,73 akibat aksi jual bersih asing senilai Rp510 miliar pada perdagangan awal pekan ini.
  • Bursa saham Asia kompak menguat pada Senin (21/9) karena dorongan optimisme sektor teknologi global serta pertemuan tingkat tinggi AS-China.
  • Bursa Efek Indonesia menerbitkan aturan baru perdagangan saham efektif 28/9 yang menurunkan batas minimum harga menjadi Rp1.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan tekanan, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73. Tekanan indeks domestik tersebut diperberat oleh aksi jual bersih investor asing (net sell) yang mencapai sekitar Rp510 miliar.

Jajaran saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BMRI, ANTM, BBCA, TLKM, dan MDKA terpantau menjadi saham yang paling banyak dilepas oleh pemodal asing.

Memasuki perdagangan hari ini, IHSG diproyeksikan akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah. Sikap hati-hati (wait and see) pelaku pasar dalam menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) menjadi katalis utama pergerakan indeks.

Keputusan mengenai arah suku bunga acuan (BI Rate) menjadi perhatian krusial di tengah upaya bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus mendukung laju pertumbuhan ekonomi domestik.

Berdasarkan analisis teknikal BNI Sekuritas, level dukungan (support) IHSG hari ini berada di kisaran 6.340–6.270, sedangkan level resistansi (resistance) berada di angka 6.440–6.500. Sejumlah analis memberikan trading idea untuk memantau pergerakan saham TPIA, BULL, BIPI, ARKO, MEDC, dan COIN.

Bursa Asia Mengekor Optimisme Wall Street, Aturan Baru ARA dan ARB BEI Segera Berlaku

Kontras dengan kehati-hatian di dalam negeri, bursa saham kawasan Asia bergerak menguat pada perdagangan Senin (21/9). Penguatan ini didorong oleh optimisme global terhadap sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

Selain sentimen teknologi, investor regional juga mencermati agenda pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan pekan ini. Pertemuan tersebut diharapkan membawa titik terang mengenai kelanjutan hubungan dagang dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Tercatat, Indeks KOSPI Korea Selatan menguat 1,65 persen; Taiex Taiwan naik 1,14 persen; Hang Seng Hong Kong terangkat 1,18 persen; dan ASX 200 Australia bertambah 0,01 persen.

Di kawasan Asia Tenggara, Indeks STI Singapura turut terkerek 0,34 persen, meski dibayangi rilis data ketenagakerjaan yang menunjukkan tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) di negara tersebut mencapai level tertingginya sejak puncak pandemi pada akhir tahun 2020.

Sementara itu, dari ranah regulasi pasar modal domestik, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menerbitkan aturan baru terkait perdagangan saham yang akan efektif berlaku pada Senin (28/9) pekan depan. Ketentuan tersebut mengatur penyesuaian batasan harga saham terendah (minimum) yang semula berada di level Rp50, kini diturunkan menjadi Rp1 per lembar saham.

Menurut Sekretaris Perusahaan BEI, Elsierra Putri Yosita, perubahan ini bertujuan untuk memberikan rentang harga yang lebih luas guna meningkatkan kualitas penemuan harga (price discovery), mendorong likuiditas, serta memberikan fleksibilitas bagi pelaku pasar dalam mengelola portofolio investasi.

Penurunan batas minimum harga saham ini juga diikuti dengan penyesuaian regulasi Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) untuk efek ekuitas dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA).

Secara rinci, aturan Auto Reject asimetris dengan batas ARB sebesar 15 persen untuk saham di atas Rp10 masih akan dipertahankan hingga akhir tahun 2026.

Untuk saham dalam rentang harga Rp1 hingga Rp10, batas ARA dan ARB ditetapkan mutlak sebesar Rp1. Skema asimetris lainnya meliputi rentang harga di atas Rp10-Rp200 (ARA 35%, ARB 15%), di atas Rp200-Rp5.000 (ARA 25%, ARB 15%), dan saham di atas Rp5.000 (ARA 20%, ARB 15%). Pemberlakuan ARB simetris secara menyeluruh baru akan diterapkan pada 1 Januari 2027.

Menilik dinamika pergerakan saham lapis dua, BRI Danareksa Sekuritas merangkum analisis teknikal untuk tiga saham pilihan pada perdagangan awal pekan ini, yaitu BIPI, IRSX, dan GDST.

Disclaimer: Artikel ini adalah informasi publik tentang pasar saham dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, atau saran untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya adalah tanggung jawab pribadi investor.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com