- Petrokimia Gresik soroti kebutuhan talenta baru di tengah transisi industri hijau.
- Perusahaan targetkan emisi turun 30% pada 2030 menuju NZE 2060.
- GladiAgro dikembangkan untuk memulihkan kesehatan tanah pertanian.
Suara.com - PT Petrokimia Gresik membawa isu transformasi industri hijau Indonesia ke forum global di New York, Amerika Serikat. Namun, di tengah dorongan menuju ekonomi rendah karbon, perusahaan menilai tantangan industri ke depan bukan hanya soal teknologi dan energi bersih, tetapi juga kesiapan tenaga kerja.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan transformasi menuju ekonomi hijau harus diikuti perubahan kompetensi tenaga kerja. Menurutnya, investasi teknologi tidak akan optimal tanpa sumber daya manusia yang mampu merancang, mengoperasikan, hingga mengembangkan teknologi tersebut.
“Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia,” kata Daconi dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York, Senin (21/9) waktu setempat atau Selasa (22/9) waktu Indonesia.
Daconi sebelumnya menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Minggu (20/9) waktu setempat. Forum yang digelar UN Global Compact tersebut mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dunia usaha, pemerintah, dan PBB untuk membahas percepatan transisi menuju energi yang bersih, adil, dan aman.
Dalam forum di KJRI New York, Daconi menilai perubahan menuju industri rendah karbon akan mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai bidang. Engineer dan operator, misalnya, tidak lagi hanya dituntut menjaga keandalan dan kapasitas produksi, tetapi juga perlu memahami efisiensi energi, energi terbarukan, manajemen karbon, serta teknologi rendah karbon.
Kebutuhan tersebut juga meluas ke bidang agronomi, lingkungan, digital, data, keuangan hingga bisnis. Karena itu, perusahaan membutuhkan reskilling dan upskilling agar tenaga kerja dapat mengikuti perubahan teknologi.
“Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah,” ujarnya.
Tantangan talenta ini beriringan dengan agenda dekarbonisasi Petrokimia Gresik. Perusahaan menargetkan penurunan emisi sebesar 30% pada 2030 dibandingkan skenario business as usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton COe. Adapun target jangka panjang perusahaan adalah mencapai net zero emission (NZE) pada 2060.
Upaya tersebut dilakukan melalui efisiensi energi dan utilitas, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pemanfaatan energi terbarukan dan CO, serta pengembangan teknologi rendah karbon.
Petrokimia Gresik bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) juga tengah mengkaji pengembangan green hydrogen untuk mendukung produksi hybrid green ammonia berkapasitas 250 MTPD.
Di sisi lain, transformasi hijau perusahaan tidak hanya menyasar aktivitas industri. Petrokimia Gresik juga membawa agenda pemulihan kesehatan tanah melalui inovasi GladiAgro: Next-Gen Soil Revival.
Berdasarkan pengujian terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016, sebanyak 91,9% sampel menunjukkan kandungan karbon organik yang rendah. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi keberlanjutan produktivitas pertanian.
Melalui GladiAgro, Petrokimia Gresik memanfaatkan Petro Gladiator, dekomposer berbasis mikroba, untuk mempercepat penguraian limbah pertanian dan bahan organik menjadi nutrisi yang dapat dikembalikan ke lahan.
Menurut Daconi, posisi Petrokimia Gresik berada di dua sisi transformasi. Di hulu, perusahaan harus meningkatkan efisiensi proses produksi dan menurunkan intensitas karbon. Sementara di hilir, inovasi perusahaan bersentuhan langsung dengan produktivitas petani dan kesehatan tanah.
“Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian,” katanya.
Daconi pun mendorong talenta Indonesia yang belajar dan bekerja di luar negeri untuk membawa kembali pengetahuan serta jejaring global guna mendukung transformasi industri di dalam negeri.
Menurutnya, kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi dan talenta Indonesia menjadi penting agar transisi menuju industri hijau tidak hanya menghasilkan penurunan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan memperkuat ketahanan pangan.