- IHSG merosot 1,2 persen pada 24 September 2026 akibat aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,42 triliun.
- Wall Street ditutup bervariasi pada 24 September 2026 karena sentimen geopolitik Timur Tengah dan dinamika sektor teknologi AS.
- BPS melaporkan nilai impor Indonesia periode Januari hingga Juli 2026 melonjak 19,94 persen secara tahunan.
Suara.com - Jelang akhir pekan perdagangan, Jumat (25/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dihadapkan pada tantangan berat usai mengalami pelemahan signifikan. Pada perdagangan sehari sebelumnya, indeks merosot 1,2 persen yang turut diperberat oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing dengan nilai fantastis mencapai Rp1,42 triliun.
Gempuran jual asing tersebut paling banyak menyasar deretan saham berkapitalisasi besar (blue chip), di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta PT Darma Henwa Tbk (DEWA).
Secara teknikal, pergerakan IHSG hari ini masih rentan melanjutkan fase koreksinya apabila gagal menembus dan bertahan di atas level psikologis 6.300. Rentang pertahanan (support) indeks diperkirakan berada di area 6.220–6.280, sementara area resistensi (resistance) mengadang di kisaran 6.300–6.330.
Deretan Rekomendasi Saham
Di tengah pasar yang fluktuatif, sejumlah perusahaan sekuritas tetap membagikan kajian teknikal bagi para trader. BNI Sekuritas merekomendasikan enam saham yang layak dicermati hari ini, yakni PTRO, ULTJ, BULL, MDKA, MAPA, dan ERAA.
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti tiga saham spesifik dengan potensi cuan, lengkap dengan analisis teknikal dan fundamentalnya:
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): Saham ini menunjukkan pola pembalikan arah menguat (bullish reversal) setelah memantul dari level support 2.100–2.150. Posisinya kini telah kembali ke atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) di 2.230 dan MA200 di 2.260. Selama mampu bertahan di level 2.230, HRTA berpeluang menuju target 2.360–2.475. Dari sisi aksi korporasi, perusahaan berencana menerbitkan maksimal 10% saham baru (private placement) untuk penguatan modal, yang akan meminta restu pemegang saham lewat RUPS Independen pada 16 Oktober 2026 mendatang.
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Sempat memantul ke level 1.310 dari area support Fibonacci 1.203–1.264, saham ini masih berjuang menembus MA20 di 1.356. Jika mampu breakout, target harganya membidik level 1.500–1.610. Secara fundamental, kinerja paruh pertama 2026 ENRG terbilang mentereng dengan lonjakan laba bersih 34,1% secara tahunan (YoY) menjadi Rp777,8 miliar, ditopang kenaikan pendapatan sebesar 25,5% YoY.
- PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TEBE): Saham ini berhasil keluar dari pola ascending triangle yang didukung oleh lonjakan volume transaksi. Strategi buy on pullback disarankan di area 2.200–2.300 dengan target Fibonacci di 2.530.
Namun, investor tetap disarankan untuk mencermati sentimen pelepasan seluruh kepemilikan saham oleh salah satu petinggi perusahaan di harga Rp2.130 per saham yang terjadi pada September ini.
Sentimen Global: Geopolitik Timteng dan Pertemuan Trump-Xi
Dari pasar global, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (24/9) malam waktu setempat. Indeks Dow Jones melemah 0,31%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq bergerak mendatar setelah masing-masing turun 0,02% dan naik tipis 0,01%.
Fokus utama bursa AS tertuju pada eskalasi geopolitik Timur Tengah. Laporan mengenai penjajakan jalur damai antara AS dan Iran—termasuk wacana pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade ekonomi—turut mewarnai sentimen pasar. Namun, di saat bersamaan, harga minyak mentah jenis Brent melesat lebih dari 3% ke kisaran US$107 per barel menyusul serangan rudal kelompok Houthi ke fasilitas Arab Saudi yang memicu ketakutan akan gangguan pasokan energi global.
Selain itu, dinamika sektor teknologi AS juga bergerak dinamis. Saham Meta Platforms melonjak 4,5% usai merilis perangkat asisten AI genggam terbaru, kontras dengan Oracle yang anjlok 3,5% imbas status "force majeure" pada pusat datanya di New Mexico.
Bergeser ke bursa Asia, mayoritas indeks bergerak di zona merah. Shanghai Composite anjlok 1,22%, diikuti penurunan ASX 200 Australia (-0,72%), Hang Seng (-0,29%), dan Taiex Taiwan (-0,28%). Indeks Nikkei 225 Jepang menjadi anomali dengan kenaikan 0,76% pasca libur panjang tiga hari, kendati data PMI Manufaktur Jepang bulan September menyusut ke angka 54,1.
Para pelaku pasar kawasan regional saat ini memilih menahan diri sembari menanti hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Meski pasar tidak berekspektasi adanya kesepakatan besar, terdapat harapan bahwa negosiasi tersebut dapat berujung pada perpanjangan masa gencatan perang dagang.
Sebagai tambahan sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perdagangan luar negeri periode Januari–Juli 2026 yang menunjukkan nilai impor Indonesia melonjak 19,94% YoY mencapai US$163,33 miliar. Di sisi lain, nilai ekspor tumbuh lebih lambat, yakni 4,43% YoY menjadi US$167,03 miliar.
Disclaimer: Artikel berita ini menyajikan informasi mengenai kinerja fundamental, pencapaian korporasi, dan strategi bisnis di sektor perbankan. Konten ini murni bersifat informatif dan jurnalistik, serta tidak bertujuan sebagai rekomendasi, ajakan, atau saran finansial untuk membeli, menahan, maupun menjual saham tertentu.