- PT Hero Global Investment Tbk mengelola kapasitas 19 MW dan menargetkan 100 MW pada 2031.
- Direktur Utama HGII Robin Sunyoto menyampaikan komitmen tersebut di Jakarta pada Jumat, 25 September 2026.
- HGII meraih penghargaan Best Infrastructures Sector dalam EmitenNews Capital Market Excellence Awards 2026.
Suara.com - PT Hero Global Investment Tbk (HGII), terus memperkuat bisnis energi terbarukan melalui pengembangan kapasitas pembangkit dan kemitraan strategis. Saat ini, HGII mengelola total kapasitas 19 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas terkontrak hingga 100 MW pada 2031. Pengembangan portofolio tersebut mencakup sejumlah jenis pembangkit energi terbarukan, yakni PLTM, PLTA, PLTS, PLTBg, dan PLTBm.
Sejalan dengan pengembangan bisnis tersebut, HGII juga memperkuat posisinya dalam ekosistem pasar modal berkelanjutan. Direktur Utama HGII, Robin Sunyoto, mengatakan akan konsisten dalam membangun bisnis energi terbarukan di Indonesia.
“Kami bersyukur dan memaknainya sebagai apresiasi terhadap perjalanan HGII dalam membangun bisnis energi terbarukan dan memperkuat fundamental Perseroan," katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Dengan target kapasitas terkontrak hingga 100 MW pada 2031, HGII akan melanjutkan pengembangan portofolio energi terbarukan sekaligus memperkuat perannya dalam mendukung pertumbuhan energi bersih di Indonesia.
Sementara itu dalam kinerja, perusahaan publik yang bergerak di sektor energi baru terbarukan (EBT), meraih penghargaan Best Infrastructures Sector - IDX Development Board dalam ajang EmitenNews Capital Market Excellence Awards 2026.
Adapun, kategori Best Infrastructures Sector merupakan penghargaan sektoral yang diberikan kepada emiten yang dinilai memiliki kinerja dan fundamental kuat di sektor infrastruktur.
Penilaian dilakukan melalui analisis fundamental dan evaluasi kepatuhan emiten dalam satu tahun terakhir dengan membandingkan perusahaan secara apple-to-apple berdasarkan sektor dan papan pencatatan.
Metodologi penjurian tersebut mencakup lima indikator utama, yakni performa keuangan dan valuasi, kontribusi dividen, kepercayaan investor institusi, porsi saham publik (free float), serta reputasi dan kepatuhan perusahaan.
Dalam aspek fundamental, penilaian antara lain mencakup pertumbuhan aset, ekuitas, penjualan, dan laba, serta sejumlah rasio keuangan, seperti profitabilitas, likuiditas, struktur utang, dan valuasi.
Sementara itu, aspek kepatuhan mencakup rekam jejak tata kelola serta kepatuhan terhadap ketentuan pasar modal.
Berdasarkan hasil penilaian Dewan Juri, HGII memperoleh nilai tertinggi, yakni 5 dari skala 5, pada tiga aspek, yaitu public shares, kontribusi dividen, serta reputasi.
Proses penjurian dikawal oleh Dr. Yohanis Hans Kwee, Nicky Hogan, dan Edhi A. Pranasidi. Menurut penyelenggara, metodologi tersebut dirancang untuk menciptakan level playing field bagi emiten dengan membandingkan perusahaan berdasarkan sektor dan papan pencatatan yang sama.