- Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyatakan perempuan menguasai 64,5 persen pelaku UMKM penopang ekonomi Indonesia di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
- Ia mendorong pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan agar pelaku UMKM dapat memperluas pasar serta memperkuat identitas produk Indonesia.
- Pemerintah berkomitmen memberikan pelatihan dan pendampingan untuk memperkecil kesenjangan teknologi serta mendukung target Indonesia Emas 2045.
Suara.com - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti menyebut, perempuan memiliki peran besar dalam menopang perekonomian Indonesia melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia mengungkapkan, 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan. Menurut Roro, besarnya keterlibatan perempuan dalam UMKM menjadi salah satu potensi yang perlu diperkuat, terutama di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat.
"Kembali lagi, mengingat kalau kita berkaca terhadap apa yang terjadi saat pandemi, salah satu sektor yang membuat kita tetap bertahan adalah UMKM sebetulnya. Dan UMKM ini berkontribusi kurang lebih 60% terhadap PDB kita. Dan yang lebih menarik lagi, ternyata pelaku usaha UMKM itu 64,5 persen adalah perempuan," kata Roro di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Ia mengatakan, fakta tersebut menunjukkan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk membantu pelaku UMKM memperluas pasar dan memperkenalkan produk mereka.
"Maka oleh karena itu, dengan fakta-fakta seperti ini, bagaimana kita memanfaatkannya. Dan kembali lagi, bagaimana teknologi itu hadir untuk menjadi jembatan kepada para pelaku usaha, masyarakat yang memang ingin berdagang agar produknya bisa semakin dikenal," ujarnya.
Roro menilai, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana perdagangan, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun cerita mengenai produk Indonesia.
Menurutnya, kemampuan menceritakan produk melalui teknologi dapat menjadi bagian dari diplomasi perdagangan.
"Jadi di dalamnya adalah teknologi menjadi sebuah alat (tool) untuk menceritakan sesuatu, menceritakan tentang produknya. Ini bisa menjadi bagian dari diplomasi sebetulnya. Bagaimana kita bisa sekaligus menceritakan bahwa ini adalah produk kebanggaan Indonesia," kata dia.
Ia mencontohkan produk kopi Indonesia yang telah dikenal di pasar internasional. Namun, menurut Roro, identitas Indonesia masih belum selalu terlihat ketika produk tersebut dipasarkan di luar negeri.
"Kalau saya keliling ke beberapa negara, salah satu ekspor unggulan kita kan kopi. Nah, kopi itu biasanya kalau kopi dari Indonesia tertulisnya kopi Java, terus Kalimantan, terus Sumatera. Jarang sekali ketika kopi itu kemudian ada tulisan 'Indonesia' di dalamnya," tuturnya.
Karena itu, Roro mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat identitas produk Indonesia sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM, termasuk perempuan.
"Nah, ini kan hal-hal atau langkah-langkah tertentu yang harus kita tempuh sebetulnya. Untuk bagaimana caranya ketika masyarakat dunia itu melihat kopi dari beberapa provinsi itu, mereka langsung berpikir tentang Indonesia. Nah, itu kan ada storytelling yang harus kita lakukan," ucapnya.
Selain memperluas pasar, Roro menekankan pentingnya memastikan perkembangan teknologi tidak memperlebar kesenjangan. Pemerintah, kata dia, perlu menghadirkan pelatihan dan pendampingan agar masyarakat dapat mengikuti perubahan teknologi.
"Lalu kemudian, kita juga harus bisa memanfaatkannya untuk kemudian memastikan kesenjangan yang tadi disampaikan itu bisa semakin kecil. Melalui pelatihan-pelatihan yang kita bisa tawarkan," jelasnya.
Roro menambahkan, penguatan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan satu kelompok. Menurutnya, perempuan dan laki-laki perlu bekerja sama untuk memanfaatkan bonus demografi dan mendukung target Indonesia Emas 2045.
"Karena pada prinsipnya, mau laki-laki, mau perempuan, kembali lagi, kita semua mempunyai kemampuan. Sebagai sebuah negara dengan bonus demografi yang di dalamnya adalah perempuan dan laki-laki, kita harus bekerja," pungkasnya.