- Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah ke level 6.209 pada perdagangan Senin, 28 September 2026.
- Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak fluktuatif cenderung melemah dengan rentang support 6.160 dan resistance 6.360.
- Tekanan pasar dipicu oleh sentimen eksternal dan domestik termasuk kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merah di awal perdagangan, Senin, 28 September 2026. IHSG dibuka melemah ke level 6.209.
Berdasarkan data Stockbit, hingga pukul 09.05 WIB, IHSG masih terperangkap di zona merah ke level 6.211 atau turun 0,49 persen.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 4,96 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp806,01 miliar serta frekuensi sebesar 158.610 kali.
Di waktu itu, terdapat 214 saham menghijau, sedangkan, 393 saham merosot. Sisanya, 356 saham masih belum bergerak alias stagnan.
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- BLTA
- VIVA
- NASA
- BIKE
- ELTY
Top Loser
- FORU
- TRUE
- SHID
- ENZO
- SAFE
Proyeksi IHSG
Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG pada awal perdagangan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. IHSG diproyeksikan berada pada rentang support 6.160 dan resistance 6.360.
"IHSG awal hari ini kami perkirakan bergerak mixed cenderung melemah dalam rentang level support 6.160 dan resistance 6.360 dengan indikator MACD menunjukkan pelemahan tren, sejalan dengan RSI yang bergerak turun," ujar Oktavianus dalam risetnya, Senin (28/9/2026).
Menurut dia, salah satu sentimen yang berpotensi menekan IHSG adalah sentimen investor eksternal dan domestik. Mulai dari tekanan jual asing, kenaikan imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (UST), pergerakan rupiah, hingga penerapan kebijakan batas minimum harga saham Rp1.
"Pasar akan dipengaruhi sentimen tekanan jual asing yang berpotensi berlanjut, seiring dengan UST yang terus meningkat dan saat ini di level 5,17 persen untuk tenor 10Y. Di mana sepekan lalu, asing mencatatkan net sell mencapai Rp3,5 triliun di seluruh perdagangan," kata Oktavianus.
Dari dalam negeri, dia menilai penerapan kebijakan batas minimum harga saham menjadi Rp1 juga berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama pada saham-saham yang sebelumnya berada di level Rp50 dan memiliki kapitalisasi pasar besar.
"Berjalannya kebijakan floor menjadi Rp1 juga mendorong kenaikan volatilitas, khususnya pada saham yang berada di Rp50 dengan market caps besar, seperti GOTO, BBKP, dan KPIG," tuturnya.