- Pengamat Ibrahim Assuaibi memprediksi harga minyak dunia berpotensi menembus level US$100 per barel pada pekan depan.
- Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, memicu kenaikan harga minyak tersebut.
- Kebijakan Amerika Serikat melarang ekspor solar turut menurunkan pasokan global dan mendongkrak harga minyak mentah.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia berpotensi kembali menguat hingga menembus level US$100 per barel.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga minyak.
Ibrahim memprediksi harga West Texas Intermediate (WTI) crude oil akan bergerak dengan support di level US$84,60 dan resistance US$100 per barel pada pekan depan.
"Jadi ada kemungkinan besar bahwa WTI crude oil masih akan mengalami penguatan, ya di atas US$100. Ini untuk WTI. Brent crude oil kemungkinan besar lebih dari US$100," kata Ibrahim kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).
Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan harga minyak adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Kondisi tersebut terutama berkaitan dengan situasi di sekitar Selat Hormuz.
Ia mengatakan Iran menyatakan wilayah Selat Hormuz sepenuhnya berada dalam penguasaannya.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menyatakan kawasan tersebut berada dalam pengawasannya karena Laut Oman terus dimonitor.
"Artinya apa? Bahwa ketegangan ini masih akan terus terjadi, ya di Timur Tengah terutama di Selat Hormuz," ungkapnya.
Ketegangan juga terjadi dalam konflik antara Yaman Houthi dan pemerintah Yaman.
Ibrahim mengatakan Houthi terus melakukan serangan terhadap Arab Saudi, terutama kilang-kilang minyak Aramco.
Kondisi tersebut kemudian mendapat respons dari koalisi Arab, Pakistan, dan Turki.
Ibrahim menyebut ketiga negara tersebut membantu menghadapi serangan misil dan drone yang dikirim Houthi.
"Jadi sekarang Yaman Houthi itu mendapatkan serangan, ya baik dari Yaman pro-pemerintah, ya kemudian Arab Saudi, Turki, dan Pakistan," kata Ibrahim.
Menurut dia, perkembangan tersebut berpotensi membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meluas, terutama di sekitar Selat Bab el-Mandeb.