- Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo mengumumkan Indonesia mengekspor 500 ribu ton beras ke Malaysia pada Rabu (7/10/2026).
- Kontrak ekspor tersebut menandai kembalinya Indonesia sebagai negara eksportir beras setelah vakum selama 42 tahun.
- Pemerintah membatalkan rencana perluasan lahan sawah karena stok beras nasional mencapai 5,3 juta ton.
Suara.com - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia kini Indonesia jadi negara eksportir beras. Pemerintah juga berencanamengekspor beras sebanyak 500 ribu ton ke negara tetangga Malaysia.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman stok beras nasional telah mencapai 5,3 juta ton. Lonjakan cadangan tersebut membuat kapasitas gudang pemerintah tidak memadai, sehingga Bulog terpaksa menyewa fasilitas penyimpanan milik swasta dengan biaya yang cukup besar.
"Maka harus disewa gudang-gudang swasta. Dan itu mahal, lebih murah kalau kita ekspor. Dan sudah diputuskan ada kontrak 500 ribu ton Indonesia ekspor ke Malaysia," ujar Hashim di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Ia menyampaikan keberhasilan mengamankan kontrak ekspor sebesar 500 ribu ton ke negara tetangga merupakan pencapaian yang menguntungkan, sekaligus menandai kembalinya Indonesia sebagai negara eksportir beras setelah 42 tahun lamanya.
"Dan Indonesia menjadi penghasil ekspor lagi setelah 42 tahun. Ini suatu prestasi luar biasa," sebutnya.
Hashim menjelaskan bahwa berbagai prestasi dan pencapaian di Kementerian Pertanian memiliki keterkaitan erat dengan langkah-langkah yang dikerjakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan.
Berdasarkan komunikasi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, diputuskan bahwa pemerintah kini membatalkan rencana pelepasan lahan sawah seluas dua hingga tiga juta hektar yang sempat diumumkan dua tahun lalu.
"Karena sudah diputuskan, Pak Amran bilang ke saya, dan saya yang mengumumkan, pemerintah sekarang tidak perlu lagi melaksanakan perluasan lahan sawah yang 2 juta hektar, 3 juta hektar yang diumumkan 2 tahun lalu, itu tidak perlu lagi. Kita sudah swasembada," katanya.
Selain itu, ia memaparkan bahwa pemerintah telah menaikkan harga pembelian gabah atau beras di tingkat petani sebesar 50 persen. Kebijakan yang ditempuh melalui mekanisme pasar tersebut diberikan sebagai bentuk insentif.
"Kita berikan insentif kepada petani, tambah 50 persen harganya, dan harga pupuk urea dipotong, dipangkas 20 persen. The cost of production turun, antara lain karena pupuk urea turun 20 persen, dan harga pengadaan dari pemerintah naik. Maka sukses, petani-petani sekarang lebih tertarik," pungkasnya.