Menperin Minta Penerapan SNI Dievaluasi, Biar Tak Jadi Beban Industri Ekspor

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 07:59 WIB
Ilustrasi pabrik perakitan mobil (Shutterstock).
BACA 10 DETIK
  • Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji meminta evaluasi penerapan SNI agar tidak menghambat industri manufaktur berorientasi ekspor.
  • Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor Kemenperin, Jakarta, pada hari Kamis tanggal 8 Oktober 2026.
  • Pemerintah harus memastikan aturan kualitas produk tidak membatasi kemampuan industri nasional memproduksi barang untuk pasar ekspor.

Suara.com - Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji, meminta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) ditinjau agar tidak menghambat industri dalam negeri, terutama sektor manufaktur yang berorientasi ekspor.

Sarmuji menyoroti penggunaan bahan baku atau komponen yang juga dibutuhkan industri untuk menghasilkan produk ekspor. 

Menurut dia, penerapan SNI perlu mempertimbangkan kebutuhan industri agar kebijakan standardisasi tidak menjadi hambatan bagi produksi dalam negeri.

"SNI memang penting untuk supaya industri kita makin berkualitas, makin sesuai dengan harapan masyarakat, konsumen juga dilindungi. Itu pentingnya SNI. Tapi SNI juga bisa menjadi technical barrier untuk apa namanya, produk-produk dari luar," kata Sarmuji di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Sarmuji mencontohkan produk ban yang memiliki dua fungsi berbeda. Selain dijual langsung kepada konsumen untuk kebutuhan penggantian ban kendaraan, produk tersebut juga digunakan sebagai bahan produksi untuk industri otomotif.

"Misalkan ban, ban itu satu sisi itu untuk konsumen, orang mau ganti ban dan lain sebagainya. Tapi di satu sisi dia adalah bahan produksi untuk menciptakan mobil, yang mobil itu orientasinya ekspor," ujarnya.

Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji. [ANTARA/HO-Golkar]

Menurut Sarmuji, perbedaan fungsi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi penerapan standar. 

Pemerintah perlu memastikan aturan yang ditujukan untuk menjaga kualitas produk tidak malah membatasi kemampuan industri nasional memproduksi barang untuk pasar ekspor.

"Itu harus kita lihat lagi supaya jangan sampai SNI justru menjadi technical barrier bagi industri kita sendiri. Nah, itu ada yang harus kita pilah-pilah benar," pungkas Sarmuji.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com