- IHSG ditutup melesat 1,04 persen ke level 6.093,70 pada akhir pekan lalu dan diproyeksikan menguat terbatas pada Senin (12/10/2026).
- Pemulihan indeks domestik ditopang oleh pertumbuhan penjualan eceran Indonesia periode Agustus 2026 sebesar 1,3 persen yoy serta sentimen positif dari penguatan bursa Wall Street.
- Meskipun Wall Street menguat dan didukung sektor teknologi, investor asing tetap mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp142 miliar pada perdagangan Jumat (9/10/2026).
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat terbatas pada perdagangan Senin (12/10/2026) untuk menguji rentang resistance 6.100 hingga 6.150, setelah pada akhir pekan lalu ditutup melesat 1,04 persen ke level 6.093,70.
Menyikapi peluang konsolidasi dengan kecenderungan menguat tersebut, BNI Sekuritas merekomendasikan enam saham pilihan, yakni RAJA, TINS, ASLI, DOOH, ISAT, dan MAPI. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas menyodorkan tiga saham utama untuk dicermati, yaitu EMAS, KLBF, dan PACK.
Keberhasilan IHSG bertahan di atas level psikologis 6.000 terjadi setelah sempat menyentuh level terendah harian di posisi 5,995,80. Pemulihan indeks domestik ini turut ditopang oleh data ekonomi dalam negeri, di mana Penjualan Eceran (Retail Sales) Indonesia periode Agustus 2026 tercatat tumbuh 1,3 persen yoy, meningkat dari pencapaian Juli sebesar 1,1 persen yoy.
Analisis Teknikal dan Arus Dana Asing
Meskipun mengalami penguatan signifikan, perdagangan Jumat (9/10/2026) masih diwarnai oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp142 miliar.
Lima saham yang paling banyak dilepas oleh pemodal asing meliputi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Berdasarkan analisis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, area 5.996 hingga 6.000 menjadi level support krusial yang wajib dipertahankan. Apabila batas bawah tersebut kembali ditembus secara konsisten, IHSG berisiko melanjutkan tekanan bearish menuju level 5.854. BNI Sekuritas menempatkan rentang support IHSG pada kisaran 6.000–6.050 dan resistance pada 6.150–6.200.
Pelaku pasar pekan ini akan mencermati dinamika imbal hasil US Treasury, pergerakan Indeks Dolar AS (DXY), nilai tukar rupiah, serta fluktuasi harga minyak Brent. Selain itu, perhatian investor tertuju pada rilis data perdagangan Tiongkok, data Inflasi IHK AS pada Rabu (14/10/2026), serta Indeks Harga Produsen (IHP) dan Retail Sales AS pada Kamis (15/10/2026).
Wall Street Rebound Terkatrol Sektor Teknologi
Laju IHSG mendapat angin segar dari penutupan bursa saham Amerika Serikat pada Jumat (9/10/2026) yang berakhir di zona hijau. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,83 persen ke posisi 51.654,90; S&P 500 bertambah 0,59 persen ke 7.811,50; dan Nasdaq Composite naik 0,64 persen ke level 27.366,10.
Penguatan Wall Street ditopang oleh aksi rebound pada saham-saham berteknologi tinggi dan sektor kecerdasan buatan (AI). Saham Palo Alto Networks melesat 5 persen, CrowdStrike dan Palantir Technologies naik masing-masing 4 persen dan 5 persen, sementara Microsoft dan Amazon menguat 2 persen dan 3 persen.
Pasar juga merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengonfirmasi tidak ada aksi militer terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu, serta menilai perundingan dengan Teheran berjalan produktif.
Di sisi lain, saham sektor telekomunikasi seperti T-Mobile US, AT&T, dan Verizon terkoreksi antara 8,8 persen hingga 13,3 persen akibat potensi persaingan dari kesepakatan akuisisi spektrum frekuensi oleh SpaceX.
Variasi Bursa Asia Pasifik
Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada akhir pekan lalu di tengah pengawasan investor terhadap tingginya harga energi dan gejolak pasar obligasi. Indeks Nikkei 225 Jepang terkikis tipis 0,02 persen, sedangkan Topix naik 0,33 persen.
Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 2,60 persen dan Kosdaq melemah 0,69 persen. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 1,80 persen, CSI 300 Tiongkok menguat 0,16 persen, dan ASX 200 Australia bertambah 0,64 persen. FTSE STI Singapura melemah 0,20 persen, sedangkan KLCI Malaysia menguat 0,46 persen.
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai perkembangan pasar modal dan indikator ekonomi. Seluruh data harga, analisis teknikal, serta rekomendasi saham dikutip dari laporan riset BNI Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, dan media finansial terpercaya. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.