- Forbes Advisor UK merilis daftar 10 mata uang berilai nominal terendah terhadap dolar AS per September 2026.
- Rial Iran menempati posisi pertama dengan nilai tukar terendah, diikuti pound Lebanon dan dong Vietnam.
- Rupiah Indonesia berada di posisi kelima, di mana nilai tukar rendah tidak selalu mencerminkan pelemahan ekonomi.
Sumber juga menyoroti perlambatan ekspor dan periode suku bunga tinggi di Amerika Serikat sebagai faktor yang memberi tekanan terhadap dong Vietnam.
4. Kip Laos (LAK)
Kip Laos berada di posisi keempat. Data sumber menyebutkan 1 dolar AS setara dengan 22.450 kip.
Laos merupakan negara yang tidak memiliki wilayah pesisir dan berbatasan dengan Vietnam, Thailand, Kamboja, serta China. Perekonomiannya bergantung, antara lain, pada ekspor tembaga, emas, dan kayu.
Pertumbuhan ekonomi yang lambat, peningkatan utang luar negeri, dan inflasi tinggi menjadi sejumlah tantangan yang menekan mata uang Laos.
5. Rupiah Indonesia (IDR)
Rupiah Indonesia berada di posisi kelima dalam daftar tersebut. Menurut sumber, 1 dolar AS setara dengan sekitar Rp17.913
Sumber mengaitkan tekanan terhadap rupiah dengan inflasi dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Namun, pergerakan rupiah pada praktiknya juga dipengaruhi faktor lain, seperti arus modal asing, kebijakan suku bunga, neraca perdagangan, dan kondisi pasar keuangan global.
Posisi rupiah dalam daftar ini perlu dipahami berdasarkan ukuran yang digunakan, yakni jumlah unit mata uang yang diperlukan untuk memperoleh 1 dolar AS.
Angka tersebut tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan kondisi keseluruhan perekonomian Indonesia.
6. Som Uzbekistan (UZS)
Som Uzbekistan berada di posisi keenam. Sumber mencatat 1 dolar AS setara dengan sekitar 11.830 som.
Uzbekistan terletak di Asia Tengah dan merupakan bekas bagian dari Uni Soviet. Negara ini memiliki sumber daya mineral serta cadangan minyak dan gas, dan dikenal sebagai salah satu eksportir kapas dunia.
Reformasi ekonomi telah dilakukan, tetapi negara tersebut masih menghadapi tantangan berupa pertumbuhan ekonomi yang rendah, inflasi, pengangguran, dan korupsi.
7. Franc Guinea (GNF)
Franc Guinea menempati posisi ketujuh, dengan nilai 1 dolar AS setara dengan sekitar 8.792 franc Guinea.
Guinea terletak di Afrika Barat dan memiliki sumber daya alam, termasuk emas dan berlian. Meski memiliki potensi sumber daya yang besar, negara ini menghadapi tantangan berupa inflasi dan ketidakstabilan politik.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari persoalan ekonomi yang memengaruhi perkembangan mata uang Guinea.
8. Franc Burundi (BIF)
Franc Burundi berada di posisi kedelapan. Berdasarkan angka dalam sumber, 1 dolar AS setara dengan sekitar 2.994 franc Burundi.
Burundi merupakan negara di Afrika Timur yang tidak memiliki wilayah pesisir. Negara ini berbatasan dengan Rwanda, Tanzania, dan Republik Demokratik Kongo.
Kopi dan teh menjadi komoditas ekspor penting bagi Burundi. Sumber menyebutkan kedua komoditas tersebut menyumbang sekitar 90 persen dari total ekspor negara itu.
9. Ariary Madagaskar (MGA)
Ariary Madagaskar berada di posisi kesembilan. Sumber mencantumkan nilai 1 dolar AS setara dengan sekitar 4.330 ariary.
Madagaskar merupakan negara kepulauan di lepas pantai tenggara Afrika. Perekonomiannya ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, perikanan, dan kehutanan.
Vanili, nikel, dan cengkih termasuk komoditas ekspor utama negara tersebut. Ariary diperkenalkan pada 1961 dan secara resmi menggantikan franc Madagaskar pada 2005.
10. Guarani Paraguay (PYG)
Guarani Paraguay menempati posisi kesepuluh. Menurut sumber, 1 dolar AS setara dengan sekitar 5.907 guarani.
Paraguay merupakan negara di Amerika Selatan yang berbatasan dengan Brasil, Argentina, dan Bolivia. Negara ini dikenal sebagai produsen kedelai, daging sapi, dan jagung.
Inflasi, korupsi, serta peredaran uang palsu disebut sebagai sejumlah tantangan yang memengaruhi kondisi mata uang Paraguay.