- Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG diproyeksikan melemah akibat aksi jual asing sebesar Rp1,13 triliun.
- Wall Street dan bursa saham Asia mengalami tekanan signifikan akibat rilis data inflasi Amerika Serikat.
- Data inflasi AS yang meleset dari ekspektasi memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Akibatnya, saham-saham sektor teknologi yang sangat rentan terhadap pembengkakan biaya pinjaman (cost of borrowing) mengalami aksi jual masif. Indeks Nasdaq anjlok tajam 1,88%, sementara S&P 500 terkoreksi 1,11% dan Dow Jones turun tipis 0,09%.
Sektor kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya memimpin rally pasar kini menjadi sektor yang paling terpukul. Saham Oracle merosot 8,8%, sementara perusahaan peladen (server) CoreWeave dan Nebius masing-masing amblas 15% dan 10%.
Produsen komputer raksasa Dell dan Hewlett Packard Enterprise juga tak luput dari koreksi tajam (masing-masing 11,4% dan 8,2%) setelah analis Barclays memangkas peringkat saham mereka dari overweight menjadi equal-weight. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE secara kumulatif turun 4,3%.
Tekanan The Fed ini turut merembet ke pasar saham regional Asia. Indeks CSI 300 di Tiongkok merosot paling dalam sebesar 1,36%, disusul oleh ASX 200 Australia (-0,64%), Kospi Korea Selatan (-0,44%), Hang Seng Hong Kong (-0,13%), dan Nikkei 225 Jepang (-0,05%)
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai perkembangan pasar modal dan indikator ekonomi global. Seluruh data harga, analisis teknikal, serta rekomendasi saham dikutip dari laporan riset BNI Sekuritas dan rilis media finansial terpercaya. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada tanggung jawab masing-masing pembaca.