Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini dan Arus Dana Asing

Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:55 WIB
ARSIP-IHSG melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 pada Rabu (3/6/2026). [Antara]
BACA 10 DETIK
  • IHSG ditutup melemah tipis ke level 5.925,98 pada Selasa, 13 Oktober 2026, disertai aksi beli bersih asing Rp5,89 miliar.
  • Tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Selasa, 13 Oktober 2026, akibat penurunan sektor semikonduktor dan perbankan.
  • Bursa Asia-Pasifik bergerak bervariasi dengan kecenderungan tertekan oleh penurunan saham-saham dari sektor teknologi pada hari perdagangan tersebut.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu memangkas sebagian besar pelemahannya hingga ditutup terkoreksi tipis 0,17 persen ke level 5.925,98 pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Menyikapi pergerakan indeks domestik tersebut, BNI Sekuritas menyodorkan enam saham pilihan (trading idea) untuk dicermati investor pada hari ini, yakni BUMI, INET, ASII, TOWR, BRMS, dan BBCA.

Meskipun IHSG parkir di zona merah, investor asing kembali membukukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp5,89 miliar di seluruh pasar. Capaian ini menandai aksi net buy asing selama dua hari berturut-turut, meskipun nilainya melandai dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai Rp142,75 miliar.

Proyeksi Teknikal IHSG dan Arus Dana Asing

Berdasarkan analisis teknikal harian, pergerakan IHSG berpotensi melanjutkan arah penguatan menuju area resistance 5.980 hingga 6.000 apabila berhasil menembus batas atas terdekat pada posisi 5.950.

Namun, pemodal diimbau tetap waspada karena kegagalan menembus level psikologis 6.000 berisiko memicu kembali tekanan koreksi untuk menguji rentang support di kisaran 5.870 hingga 5.900, atau bahkan menembus batas bawah 5.770.

Aksi beli bersih investor asing terbesar pada perdagangan kemarin terfokus pada saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp44,78 miliar, disusul PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp35,38 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp34,48 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp30,10 miliar, serta PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp20,00 miliar. Selain itu, saham TPIA, MEDC, BUMI, DSSA, dan VKTR turut mencatatkan net buy berkisar antara Rp12,80 miliar hingga Rp18,49 miliar.

Sebaliknya, tekanan jual bersih (net sell) asing terbesar dialami oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencapai Rp120,10 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp74,80 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp65,30 miliar. Aksi lepas saham oleh asing juga menimpa GOTO, ANTM, ITMG, BBNI, AADI, ADMR, serta TEBE.

Wall Street Melemah Akibat Sektor Semikonduktor dan Kinerja Perbankan

Laju bursa global memberikan sentimen penekan setelah tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Indeks S&P 500 tergerus 0,02 persen, Nasdaq Composite melosot 0,15 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkikis 0,35 persen.

Tekanan di bursa AS dipicu oleh penurunan indeks saham pembuat cip PHLX sebesar 0,23 persen pascapernyataan CEO Broadcom Hock Tan yang menyoroti aliran modal di sektor kecerdasan buatan (AI) mulai menyerupai aktivitas spekulasi.

Sentimen ini diperberat oleh kemajuan teknologi produsen cip Tiongkok, CXMT, yang memicu kekhawatiran persaingan industri. Saham Applied Materials anjlok hampir 7 persen dan Micron Technology susut 3,6 persen.

Di sektor perbankan, saham Citigroup merosot 5,6 persen, Wells Fargo melorot 3,1 persen akibat pendapatan bunga bersih di bawah estimasi, serta JPMorgan Chase turun 0,9 persen menyusul capaian laba bersih yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Kawasan Asia-Pasifik bergerak bervariasi dengan kecenderungan tertekan oleh saham-saham sektor teknologi. Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,80 persen dan Kospi Korea Selatan anjlok 5,50 persen. Sebaliknya, indeks ASX 200 Australia naik tipis 0,10 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,30 persen, serta FTSE Malaysia bertambah 0,33 persen.

Pengusutan ulang terhadap ekspektasi tinggi sektor AI membuat para pemodal memperhitungkan kembali besaran belanja modal (capex) korporasi di tengah kenaikan biaya pinjaman global.

DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai perkembangan pasar modal dan indikator ekonomi global. Seluruh data harga, analisis teknikal, serta rekomendasi saham dikutip dari laporan riset BNI Sekuritas dan rilis media finansial terpercaya. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada tanggung jawab masing-masing pembaca.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com