IHSG Anjlok, Dasco Minta BEI Lakukan Perbaikan dan Akomodir Laporan MSCI

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:21 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Rina]
BACA 10 DETIK
  • Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendatangi kantor Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 16 Oktober 2026.
  • Kunjungan tersebut dilakukan setelah laporan MSCI membuat Indeks Harga Saham Gabungan anjlok hingga 10,75 persen.
  • Dasco meminta Bursa Efek Indonesia segera melakukan perbaikan dan mengakomodir pendapat lembaga pemeringkat internasional tersebut.

Suara.com - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad meminta Bursa Efek Indonesia untuk melakukan perbaikan imbas keluarnya laporan Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hari ini.

Hal ini diumumkan Dasco usai mendatangi kantor BEI pada Jumat (16/10/2026). Pertemuan itu juga dihadiri Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Menteri Investasi sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani, hingga Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.

"Tadi sudah melakukan koordinasi selaku Dewan Perwakilan Rakyat yang hari-hari kami kemudian bertugas sebagai fungsi pengawasan," katanya dalam konferensi pers di BEI, Jumat (16/10/2026).

Dasco menyebut kalau selama ini DPR terus mengawasi kejadian-kejadian yang ada di bursa. Mereka terus memonitor dan meminta jajaran BEI untuk melakukan perbaikan.

"Dan dalam peristiwa-peristiwa yang kemudian kami memonitor serta meminta kepada bursa untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan," lanjutnya.

Ia juga meminta BEI untuk mengakomodir pendapat dari lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI.

(kiri-kanan) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Rina]

"Dalam rangka juga mengakomodir pendapat-pendapat dari lembaga-lembaga rating internasional, dan termasuk dari MSCI," imbuhnya.

Dasco menyebut sebenarnya pengumuman MSCI dijadwalkan keluar pada November 2026. Namun kenyataannya review tersebut justru terbit dini hari, lebih cepat dari perkiraan.

"Yang seharusnya baru akan melakukan review atau konsultasi pada bulan November, tapi kemudian pada dini hari tadi itu kemudian sudah mengeluarkan semacam review," beber dia.

Padahal, Dasco menilai kalau BEI maupun OJK sebenarnya juga sudah melakukan proses perbaikan dalam rangka mengakomodir laporan pemeringkat internasional tersebut. Maka dari itu, pihaknya melakukan koordinasi dengan pihak terkait soal munculnya laporan MSCI.

"Bertepatan dengan sebenarnya bahwa Bursa juga sudah melakukan proses-proses dalam rangka mengakomodir review-review yang sebenarnya baru akan di bulan November, tetapi kemudian dalam hal ini OJK dan Bursa sudah melakukan proses-proses tersebut," tegasnya.

Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terus tertekan hingga akhir persen di Perdagangan Sesi I, Jumat, 16 Oktober 2026. IHSG merosot 630,77 poin atau 10,75 persen ke level 5.223.

Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, IHSG dibuka di level 5.394. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.405 dan terendah 5.193 sepanjang perdagangan sesi pertama.

Di tengah pelemahan tersebut, nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp17,30 triliun. Sementara itu, volume transaksi mencapai 37,83 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.336.396 kali.

Di sisi lain, penurunan ini disinyalir adanya pengumuman lembaga pemeringkat MSCI yang ingin menurunkan peringkat pasar modal Indonesia ke Standalone Market. IHSG juga sempat trading halt alias menghentikan perdagangan saham pagi tadi.

Alasan laporan MSCI keluar dipicu oleh kekhawatiran terhadap aksesibilitas investasi, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar modal Indonesia. Dalam pernyataannya, MSCI menyampaikan bahwa rencana perubahan klasifikasi tersebut masih dalam tahap konsultasi.

Keputusan ini menyusul peringatan yang sebelumnya disampaikan pada Juni 2026, ketika MSCI menyatakan Indonesia berpotensi mengalami reklasifikasi apabila persoalan aksesibilitas pasar tidak kunjung teratasi.

"Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi Indonesia sebagai Pasar Berkembang yang berkelanjutan tidak lagi tepat dan meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai Pasar Mandiri," kata MSCI dikutip Reuters, Jumat (16/10/2026).

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com