Harga Makanan dan Minuman Olahan Terancam Naik, Stok Bahan Baku Menipis

Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:47 WIB
Ilustrasi bahan makanan olahan
BACA 10 DETIK
  • Ketua Gapmmi Adhi S. Lukman menyatakan harga makanan olahan berisiko naik akibat keterlambatan penetapan Neraca Komoditas 2027.
  • Stok bahan baku gula, garam, dan jagung untuk industri diperkirakan hanya mencukupi kebutuhan hingga Desember 2026.
  • Gapmmi meminta pemerintah mempercepat pembahasan kebutuhan komoditas pada Minggu (18/10/2026) demi kelancaran perencanaan produksi industri.

Suara.com - Harga produk makanan dan minuman olahan berisiko naik jika industri mengalami kekurangan bahan baku akibat keterlambatan penetapan Neraca Komoditas (NK) 2027.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, stok sejumlah bahan baku yang masuk dalam Neraca Komoditas, seperti gula, garam, dan jagung, diperkirakan hanya mencukupi kebutuhan industri hingga Desember 2026.

Kondisi tersebut membuat kepastian pasokan bahan baku untuk tahun depan perlu segera diputuskan. Terlebih, industri makanan dan minuman mulai mempersiapkan distribusi untuk menghadapi periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, hingga Ramadan dan Lebaran 2027.

"Karena ini sangat penting sekali. Karena kita juga mengingat gini, kondisi global. Saat ini penuh ketidakpastian. Ada gangguan logistik, naik turunnya harga, dan bahkan beberapa negara melarang ekspor komoditi-komoditi tertentu dan juga masalah climate change," kata Adhi kepada Suara.com, Minggu (18/10/2026).

Menurut Adhi, keterlambatan penetapan Neraca Komoditas berpotensi mengganggu kelancaran pemenuhan bahan baku industri. Karena itu, pihaknya meminta pemerintah mempercepat pembahasan kebutuhan komoditas untuk tahun depan agar perusahaan memiliki kepastian dalam menyusun perencanaan produksi.

Dia menyebut industri membutuhkan kepastian pasokan bahan baku, baik yang berasal dari produksi dalam negeri maupun impor. Ketersediaan bahan baku dengan harga kompetitif dinilai penting untuk menjaga daya saing produk sekaligus mencegah beban biaya berlebihan beralih kepada konsumen.

"Ini sangat penting sekali, supaya industri ini bisa membuat perencanaan dengan baik dan juga mendapatkan harga-harga yang terbaik karena ujung-ujungnya adalah konsumen. Kalau kita dapatnya mahal, kemudian ini ujung-ujungnya konsumen yang akan menanggung. Dan juga daya saing produk kita di pasar global akan semakin kalah," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com