IHSG Sesi I Anjlok 5 Persen Tembus ke Bawah 5.000, Rupiah Tertekan ke Rp18.032

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:29 WIB
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • IHSG anjlok 261,84 poin ke level 4.923,26 akibat tekanan jual masif pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.
  • Pelemahan dipicu rupiah menembus Rp18.032 per dolar AS serta lonjakan harga minyak mentah global yang memicu kepanikan investor.
  • Saham perbankan besar dan energi mendominasi tekanan jual, menyeret seluruh indeks sektoral jatuh ke zona merah.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang masif pada penutupan perdagangan sesi pertama hari Senin, 19 Oktober 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut ditutup terperosok tajam sebesar 261,84 poin atau merosot 5,05 persen hingga terpuruk ke level 4.923,26.

Pergerakan indeks sejak bel pembukaan sudah menunjukkan kelemahan, di mana IHSG dibuka pada posisi 4.961,88, sempat menyentuh level tertinggi harian yang sangat terbatas di 4.974,66, sebelum akhirnya terseret lebih dalam menyentuh titik terendah sesi pertama pada level 4.907,37. Penurunan tajam ini menandai pelemahan signifikan pasar saham domestik di tengah sentimen negatif yang membayangi.

Pelemahan ekstrem yang melanda pasar saham tanah air ini tidak hanya menghempas IHSG, tetapi juga memukul telak seluruh indeks sektoral dan indeks acuan utama lainnya. Indeks LQ45 yang berisi jajaran saham paling likuid di bursa harus rela terkoreksi dalam sebesar 28,13 poin atau anjlok 5,53 persen menjadi 480,43.

Kondisi serupa dialami oleh Jakarta Islamic Index (JII) yang merosot 17,88 poin atau 5,93 persen ke level 283,57, serta Indeks KOMPAS 100 yang tergelincir 37,02 poin atau turun 5,63 persen menjadi 620,91. Penurunan serempak pada indeks-indeks utama ini merepresentasikan aksi jual kepanikan yang merata di berbagai lini sektor industri.

Aktivitas perdagangan sepanjang sesi pertama ini diwarnai oleh nilai transaksi yang tergolong jumbo, mencapai Rp10,03 triliun. Rincian perputaran dana tersebut didominasi oleh transaksi di pasar reguler sebesar Rp9,65 triliun, sementara pasar negosiasi dan tunai menyumbang Rp367,50 miliar. Dari sisi volume, investor mentransaksikan sebanyak 16,89 miliar lembar saham, dengan 15,95 miliar lembar di antaranya berpindah tangan di pasar reguler dan 729 juta lembar di pasar negosiasi.

Tingginya nilai dan volume transaksi di tengah indeks yang anjlok tajam mengindikasikan adanya tekanan jual atau distribusi modal skala besar yang dilakukan oleh para pelaku pasar.

Faktor makroekonomi turut memberikan kontribusi signifikan terhadap kejatuhan pasar saham hari ini. Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau menembus level psikologis baru yang sangat krusial, yakni bertengger di posisi Rp18.032 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar ini berbarengan dengan lonjakan harga komoditas energi global yang semakin mencekik. Harga minyak mentah berjangka jenis Brent melesat ke level US$107,90 per barel, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melambung menembus level US$100,15 per barel. Tingginya harga minyak ini memperkuat kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi domestik dan tekanan terhadap neraca perdagangan.

Merespons sentimen makro tersebut, jajaran saham perbankan berkapitalisasi raksasa menjadi sasaran utama aksi jual para investor. Hal ini tecermin dari daftar saham dengan nilai transaksi tertinggi yang didominasi oleh emiten perbankan. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan nilai transaksi tertinggi dengan harga terkoreksi 2,65 persen ke level Rp3.300. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 6,86 persen menjadi Rp4.820, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merosot 6,82 persen ke Rp2.460. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga tertekan 6,84 persen ke Rp1.770, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang amblas 6,99 persen ke level Rp665.

Dari sisi volume transaksi, pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi yang paling banyak diperdagangkan, meskipun harganya turun 4,00 persen menjadi Rp24 per lembar. DSSA, TLKM, BBRI, dan BMRI mengekor di belakangnya sebagai saham-saham dengan volume perpindahan tangan terbesar.

Sementara itu, berdasarkan frekuensi transaksi, saham BBRI menjadi primadona yang paling sering ditransaksikan oleh investor, disusul secara berurutan oleh BBCA, BMRI, TLKM, dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang juga terkoreksi 6,67 persen ke posisi Rp2.380.

Saham-saham berkapitalisasi besar tersebut tidak hanya mendominasi aktivitas perdagangan, tetapi juga menjadi beban utama atau top lagging movers yang menarik IHSG jatuh ke zona merah pekat. Saham BBCA, BBRI, dan TLKM tampil sebagai pemberat utama indeks. Barisan pemberat ini semakin diperparah oleh kejatuhan saham pertambangan seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merosot 6,95 persen ke Rp10.375 dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang juga turun 6,95 persen menjadi Rp3.480 per lembar.

Selain itu, sejumlah saham lapis kedua dan ketiga juga terpuruk ke dalam daftar saham dengan penurunan persentase terdalam atau top losers. Saham PT Tjokro Bersaudara Tbk (TAMA) memimpin daftar ini dengan penurunan 9,52 persen menjadi Rp152. Saham PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) mengikuti dengan penurunan 9,52 persen ke Rp171, diikuti PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) yang turun 9,30 persen ke Rp78, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) turun 9,09 persen menjadi Rp40, dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang terkoreksi 8,33 persen ke Rp33 per lembar.

Meskipun awan mendung menyelimuti hampir seluruh sektor bursa, masih terdapat segelintir saham yang mampu melawan arus dan mencetak penguatan signifikan. Saham PT Tempo Intimedia Tbk (TMPO) sukses melonjak 28,79 persen ke level Rp170. Posisi kedua ditempati oleh saham PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) yang menguat 25,00 persen menjadi Rp480, disusul saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) yang naik 24,84 persen ke Rp4.020. Selanjutnya, saham PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) terapresiasi 20,24 persen menjadi Rp5.050, dan PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) menguat 20,00 persen ke level Rp6.750.

Beberapa saham yang mencetak kenaikan impresif tersebut juga tercatat sebagai top leading movers atau motor penggerak yang berupaya menahan laju penurunan IHSG. Saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang melonjak 16,42 persen ke Rp7.975 memimpin sebagai penopang indeks utama.

Di belakangnya, BSWD, BIKE, TRUK, dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang naik 3,96 persen ke Rp2.360 turut berkontribusi positif.

DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai analisis sektor perbankan, indikator likuiditas, dan proyeksi pasar modal. Seluruh data angka, estimasi rasio, serta rekomendasi saham disadur secara presisi dari rilis riset BNI Sekuritas. Artikel ini bukan merupakan bentuk rekomendasi atau ajakan transaksi jual-beli saham.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com