- Rupiah melemah 0,11% ke Rp18.046/US$ pada Senin (19/10).
- Outflow asing dan konflik geopolitik menekan rupiah.
- Keputusan suku bunga BI pada Rabu menjadi perhatian investor.
Suara.com - Rupiah kembali tak berdaya melawan dolar Amerika Serikat (AS). Arus modal asing yang keluar dari pasar domestik, memanasnya ketegangan geopolitik, hingga penantian keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) membuat mata uang Garuda masih dibayangi tekanan.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (19/10/2026), rupiah ditutup di level Rp18.046/US$. Posisi ini melemah 19 poin atau 0,11% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.027/US$.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen risk-off atau kecenderungan investor menghindari aset berisiko. Kondisi tersebut diperparah oleh arus keluar dana asing dari pasar domestik.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, masih tertekan oleh sentimen risk off dan outflow dana asing dari pasar domestik. Dolar AS sendiri terpantau rebound oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan perang Ukraina-Russia," kata Lukman saat dihubungi Suara.com.
Tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut apabila investor asing terus menarik dananya dari Indonesia. Di tengah ketidakpastian global, penguatan dolar AS juga membuat mata uang negara berkembang semakin rentan tertekan.
Dari dalam negeri, pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/10/2026). Keputusan bank sentral mengenai suku bunga menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menentukan arah pergerakan rupiah.
Lukman menilai, tanpa katalis ekonomi global yang signifikan pada pekan ini, pergerakan rupiah akan banyak dipengaruhi perkembangan arus modal asing dan keputusan BI.
"Tidak ada data maupun agenda ekonomi penting dari luar negeri pekan ini, sedangkan dari domestik investor menantikan RDG BI hari Rabu. Rupiah diperkirakan masih akan tertekan apabila outflow masih berkelanjutan," jelasnya.
Di kawasan Asia, tekanan terhadap mata uang juga meluas. Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,52%, diikuti dolar Taiwan yang turun 0,33% dan peso Filipina yang melemah 0,15%.
Yen Jepang juga turun 0,08%, dolar Singapura melemah 0,04%, sedangkan ringgit Malaysia terkoreksi 0,01% terhadap dolar AS.
Namun, tidak seluruh mata uang Asia bergerak di zona merah. Won Korea Selatan menguat 0,19%, yuan China naik 0,06%, rupee India menguat 0,02%, dan dolar Hong Kong naik tipis 0,003%.