- Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp18.056 per dolar AS pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen negatif dari penurunan IHSG, ketegangan Timur Tengah, serta perang Ukraina-Rusia.
- Tekanan domestik dan eksternal tersebut membuat rupiah melemah di tengah mayoritas mata uang Asia yang justru menguat.
Suara.com - Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikaf (AS) masih mengalami tekanan. Padahal mayoritas mata uang Asia menguat.
Berdasarkan data Bloomberg Senin (19/10/2026), rupiah dibuka ke level Rp18.056 dolar Amerika Serikat. Angka ini melemah tipis 27 poin atau turun 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp18.027.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah masih didorong sentimen negatif pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang longsor pada hari ini.
"Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal, walau sanksi OJK serta hearing BEI mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar," katanya saat dihubungi Suara.com.
Selain dari domestik, ketegangan di Timur Tengah juga memberikan sentimen pada rupiah. Sehingga, mata uang Garuda masih akan melemah hingga penutupan nanti.
"Namun eskalasi di Timur Tengah dan perang Ukraina-Russia kembali melonjakan harga minyak dunia kembali menekan rupiah. Range Rp17.950-Rp18.100," jelasnya.
Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,38 persen. Lalu ada peso Filipina yang tertekan 0,2 persen. Kemudian, baht Thailand turun 0,09 persen dan dolar Singapura terlihat melemah tipis 0,02 persen di pagi ini.
Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,13 persen. Yuan China terkerek 0,04 persen, dan ringgit Malaysia menanjak 0,03 persen.
Disusul, yen Jepang yang naik 0,01 persen Berikutnya ada dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,006 persen terhadap the greenback pagi ini.