DEN Peringatkan BI Segera Naikkan Suku Bunga demi Selamatkan Rupiah

Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:22 WIB
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luthfi Ridho saat diskusi publik bertajuk Outlook Ekonomi 2027 yang digelar di Lounge Katadata, Jakarta, Selasa (20/10/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
BACA 10 DETIK
  • Anggota DEN Luthfi Ridho memperingatkan risiko tekanan Rupiah akibat keterlambatan Bank Indonesia menaikkan suku bunga.
  • The Fed dan bank sentral dunia menaikkan suku bunga pada September 2026 sehingga selisih imbal hasil menyempit.
  • Luthfi menyarankan Bank Indonesia segera menyesuaikan suku bunga acuan demi mengamankan stabilitas nilai tukar Rupiah.

Suara.com - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperingatkan adanya risiko tekanan nilai tukar Rupiah apabila Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter terlambat merespons tren kenaikan suku bunga global. 

Anggota DEN, Luthfi Ridho menjelaskan, lonjakan inflasi di berbagai negara telah memaksa bank sentral dunia, termasuk The Fed dari Amerika Serikat, untuk menempuh kebijakan pengetatan moneter atau bersikap hawkish.

Ia memaparkan, inflasi global saat ini berada dalam tren kenaikan yang tidak biasa. Konsensus pasar bahkan memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi dalam waktu dekat. 

Menurutnya, kebijakan tersebut dipastikan akan berdampak langsung pada menyempitnya selisih suku bunga atau interest rate differential antara Indonesia dengan negara lain.

"Kalau misalkan kita enggak ngikut, enggak ikut naikin tingkat suku bunga, berarti gap antara atau interest rate differential antara kita dengan the rest of the world gitu ya, simply saying, itu jadi mengecil," kata Luthfi dalam diskusi publik bertajuk Outlook Ekonomi 2027 yang digelar di Lounge Katadata, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Dalam paparannya, ia memperlihatkan The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan kompak menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026. Posisi suku bunga acuan The Fed kini berada di level 4,00 persen, European Central Bank 2,50 persen, dan Bank of Japan 1,25 persen. 

Manuver ini membuat selisih imbal hasil antara US Treasury tenor 10 tahun dengan Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun semakin menyempit.

Ia menegaskan bahwa apabila suku bunga acuan (BI rate) di dalam negeri tidak segera disesuaikan, maka beban kejutannya akan langsung menghantam nilai tukar Rupiah. 

"Kalau misalkan suku bunganya enggak menyesuaikan, yang paling apa ya, paling umum kita pahami yang menyesuaikan adalah nilai tukar rupiah," ungkapnya.

Luthfi turut menyoroti bahaya lanjutan dari selisih imbal hasil yang semakin menipis tersebut, di mana tekanannya akan merambat dan terlihat langsung pada tingkat suku bunga obligasi. 

Meski pasar obligasi domestik saat ini masih terbilang mampu bertahan di tengah fluktuasi pasar saham, kondisi semu ini dinilainya berpotensi membuat pemangku kebijakan terlena terhadap fundamental yang rapuh.

Sebagai langkah antisipasi, Luthfi menyarankan agar otoritas moneter mengambil jalur aman dengan merespons tren pengetatan global demi menjaga stabilitas makroekonomi.

"Kalau saya sebagai sebagai pribadi ya seharusnya kita itu harusnya tidak perlu berani-berani amat gitu. Kalau misalkan global naik, seharusnya kita juga ikut naik supaya mengamankan nilai tukar rupiah, kalau menurut saya ya," pungkas Luthfi.  

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com