- Rupiah menguat tipis ke level Rp17.985 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026.
- Penguatan nilai tukar rupiah tersebut didorong oleh rencana Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.
- Mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Suara.com - Rupiah masih mendapatkan sentimen positif di pasar keuangan. Alhasil, mata uang Garuda menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg Selasa (20/10/2026), rupiah dibuka ke level Rp17.985 dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menguat 7 poin atau naik 0,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.992.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah disebabkan rencana Bank Indonesia (BI) ingin menaikkan suku bunga.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas oleh antisipasi kenaikan suku bunga dalam RDG BI sore ini," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, dia mewaspadai mata uang Garuda yang bakal melemah. Salah satunya, sentimen domestik yang bisa menekan mata uang Garuda.
"Sentimen di pasar ekuitas domestik masih akan mendikte rupiah, yang apabila kembali membaik akan kembali mendukung. Range rupiah Rp17.850-Rp18.000," katanya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah. Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan setelah anjlok 0,17 persen.
Selanjutnya ada peso Filipina yang terkoreksi 0,15 persen dan won Korea Selatan terkikis 0,1 persen. Disusul, yen Jepang yang tertekan 0,08 persen. Berikutnya, dolar Singapura terlihat turun 0,05 persen dan yuan China yang melemah tipis 0,04 persen di pagi ini.
Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,11 persen terhadap the greenback. Kemudian ada ringgit Malaysia yang menanjak 0,04 persen dan dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,009 persen.