Gantikan Impor Bensin, Bahlil Beberkan Persiapan Mandatori Etanol E10 hingga E50

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 09:24 WIB
Pemerintah tengah menyiapkan transisi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin menuju campuran etanol (E50). (Antara)
BACA 10 DETIK
  • Pemerintah Indonesia berencana melakukan transisi bahan bakar bensin menuju campuran etanol secara bertahap hingga tingkat E50.
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan kebijakan tersebut di Balikpapan pada Jumat 23 Oktober 2026 untuk mengurangi impor minyak.
  • Langkah ini memanfaatkan bahan baku lokal seperti singkong, jagung, dan tebu guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Suara.com - Pemerintah tengah menyiapkan transisi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin menuju campuran etanol (E50) secara bertahap.

Langkah ini diambil untuk menekan ketergantungan pada impor bensin yang konsumsinya mencapai puluhan juta kiloliter per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi pencampuran biodiesel 50 persen atau B50 pada BBM jenis solar akan diadopsi untuk BBM jenis bensin.

"Kesuksesan yang kita lakukan di diesel, solar, yang dimulai dari 2016–2017, nah ini kita akan mentransfer ini ke bensin. Nah, ini kita akan bikin etanol. Tahap pertama E10 sampai dengan E50 dalam kurun waktu tertentu," kata Bahlil di Balikpapan pada Jumat (23/10/2026).

Bahlil mengakui, tingkat produksi atau lifting minyak mentah dalam negeri belum mampu mencukupi total kebutuhan bensin nasional yang mencapai 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun.

Untuk mendukung rencana pencampuran bioetanol tersebut, pemerintah fokus menyiapkan kesiapan industri hulu dan ketersediaan bahan baku di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia di Balikpapan pada Jumat (23/10/2026). [Suara.com/Yaumal]

"Tapi kita harus mempersiapkan dulu industrinya. Etanol ini bahan bakunya dari mana? Dari singkong, jagung, dan tebu. Nah, ini sekaligus sebagai penetrasi pertumbuhan kawasan ekonomi baru di daerah," ujar Bahlil.

Bahlil menegaskan, kebijakan ini berfokus pada pemanfaatan energi campuran antara fosil dan nabati guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain sektor bahan bakar transportasi, konsep serupa juga diterapkan pada sektor ketenagalistrikan melalui pemanfaatan batu bara berkalori rendah yang dilengkapi teknologi penangkap karbon (carbon capture).

"Ini supaya apa? Energi kita murah, tapi juga bersih," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com