-
Pendapatan PTSN melonjak 65,2%, tetapi laba semester I-2026 turun 30,4%.
-
Saham PTSN melesat 24,46% di tengah wacana program ponsel gratis.
-
PBV PTSN 0,79 kali belum tentu murah, margin laba justru menyusut.
Suara.com - PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kencang pada semester I-2026.
Mengutip laporan keuangan perseroan, PTSN membukukan pendapatan US$182,28 juta atau sekitar Rp3,2 triliun pada enam bulan pertama 2026. Angka tersebut melonjak 65,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$110,32 juta.
Sayangnya, kenaikan pendapatan itu tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan laba. PTSN mencatatkan laba tahun berjalan sebesar US$4,69 juta, turun 30,4 persen dibandingkan US$6,74 juta pada semester I-2025.
Tekanan terhadap profitabilitas terlihat dari kenaikan beban pokok pendapatan menjadi US$167,45 juta dari sebelumnya US$94,96 juta. Akibatnya, laba kotor perseroan justru turun menjadi US$14,83 juta, dibandingkan US$15,35 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut membuat margin laba kotor PTSN menyusut tajam dari 13,9% menjadi 8,1 persen. Artinya, meskipun pendapatan meningkat, kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari penjualan justru melemah.
Tekanan juga datang dari sejumlah komponen biaya lainnya. Beban usaha naik menjadi US$7,52 juta dari US$7,22 juta, sementara beban keuangan meningkat menjadi US$794.599 dari US$622.156.
PTSN juga membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar US$592.288, berbalik dari keuntungan US$79.324 pada semester I-2025.
Kombinasi kenaikan biaya tersebut membuat laba sebelum pajak perseroan merosot menjadi US$6,13 juta dari sebelumnya US$8,64 juta. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar US$1,44 juta, laba tahun berjalan PTSN tersisa US$4,69 juta.
Di tengah kinerja keuangan yang tertekan, saham PTSN justru melesat di pasar saham. Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), saham perseroan menguat 24,46 persen ke level Rp346.
Pergerakan saham tersebut berlangsung di tengah munculnya wacana pemerintah membagikan ponsel gratis kepada sedikitnya 25 juta warga dewasa yang masuk kelompok desil 1–4. Rencana itu dikaitkan dengan upaya melengkapi rekening digital untuk penyaluran bantuan sosial dan bantuan langsung tunai (BLT).
Dengan asumsi harga ponsel Rp1,1 juta per unit, kebutuhan anggaran pengadaan perangkat untuk 25,1 juta penerima mencapai sekitar Rp27,61 triliun.
PTSN disebut berpotensi diuntungkan karena bergerak di bidang manufaktur elektronik dan dikaitkan dengan peluang perakitan maupun produksi perangkat untuk program tersebut.
Dengan demikian, sentimen program ponsel gratis berpotensi menjadi perhatian pelaku pasar. Meski demikian, dampaknya terhadap pendapatan dan laba PTSN akan bergantung pada realisasi pengadaan, besaran pesanan yang diperoleh, serta margin keuntungan dari proyek tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346, rasio harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) perseroan diperkirakan berada di level 0,79 kali.
Angka tersebut menunjukkan saham PTSN diperdagangkan di bawah nilai bukunya. Namun, valuasi yang terlihat murah secara rasio belum tentu mencerminkan harga saham yang lebih rendah daripada nilai wajarnya.