BI Mengakui Modal Asing Kabur dari Indonesia Imbas Peringatan MSCI

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 15:26 WIB
IHSG melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 pada Rabu (3/6/2026). [Antara]
BACA 10 DETIK
  • Bank Indonesia mengonfirmasi aliran modal asing keluar di Jakarta pada Jumat, 23/10/2026 akibat sentimen negatif MSCI.
  • Bank Indonesia memastikan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai untuk memfasilitasi kelancaran seluruh aktivitas transaksi di pasar keuangan.
  • Bank Indonesia melakukan intervensi ganda melalui instrumen DNDF dan pasar spot guna meredam tekanan nilai tukar rupiah.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi adanya tren aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik. Dinamika ini dipicu oleh pengumuman terbaru dari lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang membuka peluang untuk menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi kategori Standalone Market.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, membenarkan bahwa sentimen negatif tersebut telah memicu pelarian modal asing. Arus keluar ini tidak hanya menghantam instrumen pasar saham, tetapi juga mulai merembet ke instrumen investasi lain, yakni Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Angkanya mungkin tidak keluar dari kita, tetapi kita memang mengamati ada outflow di pasar saham," ujar Erwin dalam acara Taklimat Media yang digelar di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).

Merespons gejolak penarikan dana asing tersebut, otoritas moneter langsung mengambil langkah antisipatif. Erwin menegaskan bahwa bank sentral akan menjamin ketersediaan likuiditas rupiah di pasar agar tetap memadai, sehingga seluruh aktivitas transaksi di pasar keuangan dapat terus berjalan lancar tanpa kendala mismatch likuiditas.

"Transaksi di pasar keuangan itu memerlukan likuiditas rupiah. Kita memastikan likuiditas rupiah berada pada jumlah yang cukup dan memadai untuk bisa memfasilitasi transaksi yang terjadi," tegasnya.

Di samping menjaga likuiditas, BI juga bersiaga dengan langkah intervensi ganda untuk melindungi nilai tukar rupiah dari tekanan yang lebih dalam akibat derasnya outflow. Strategi pertahanan ini dieksekusi melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun intervensi langsung di pasar valuta asing (spot).

Erwin menjelaskan mekanisme pertahanan yang diterapkan oleh BI. Apabila investor asing hanya ingin melakukan lindung nilai (hedging) atas risiko pelemahan kurs namun belum ingin menarik dananya pada hari itu, BI akan mengakomodasinya melalui instrumen DNDF.

"Tapi kalau mau keluar hari ini, ya kita masuk dengan intervensi spot," paparnya merujuk pada kesiapan bank sentral menggelontorkan pasokan valas di pasar tunai.

Hingga saat ini, BI mengeklaim bahwa depresiasi nilai tukar rupiah masih berada dalam batas yang terkendali (manageable). Meskipun kurs rupiah sempat tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, BI menilai pergerakan tersebut belum terlampau ekstrem.

"Kita masih bisa kelola dengan baik dan mudah-mudahan shock-nya secara perlahan mulai reda," pungkas Erwin.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com