Nasib UMKM RI: Modal dan Akses Pasar Jadi Tantangan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:38 WIB
Ilustrasi UMKM Batik. Foto ist
BACA 10 DETIK
  • Ibas menyoroti pentingnya modal, pelatihan, dan akses pasar bagi UMKM.
  • Batik Kendal didorong menjadi penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata.
  • Regenerasi perajin diperlukan untuk menjaga keberlanjutan industri batik lokal.

Suara.com - Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tak cukup hanya dengan menjaga produk lokal. Akses permodalan, peningkatan keterampilan, dan perluasan pasar menjadi pekerjaan yang perlu diperhatikan agar usaha rakyat mampu berkembang dan bersaing.

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, menyoroti pentingnya dukungan berkelanjutan bagi UMKM saat menghadiri kegiatan UMKM dan Batik di Alun-Alun Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Minggu (25/10/2026).

Menurut Ibas, UMKM membutuhkan dukungan nyata agar pelaku usaha tidak hanya mampu mempertahankan bisnisnya, tetapi juga meningkatkan kualitas produk dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Negara harus hadir. Negara harus sayang rakyat,” tegas Ibas.

Ia menilai, penguatan UMKM perlu dilakukan melalui pelatihan, kemudahan akses pembiayaan, serta pembukaan peluang pemasaran yang lebih luas. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing usaha sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.

Selain persoalan usaha, Ibas menyoroti potensi batik dan seni budaya lokal sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif di Kendal. Menurutnya, warisan budaya dapat memberikan nilai tambah ekonomi apabila dikembangkan bersama sektor perdagangan, pariwisata, dan usaha masyarakat.

“Batiknya juga terus dilestarikan yang menjadi kebanggaan nenek moyang dan masyarakat di desa-desa, yang terus dikembangkan untuk menjadi satu budaya kebanggaan Indonesia,” ujar Ibas.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam melestarikan batik. Regenerasi perajin dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik sekaligus memastikan produk lokal tetap relevan dengan perubahan tren dan persaingan pasar.

Kendal sendiri memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan untuk menopang ekonomi masyarakat, mulai dari pariwisata bahari, wisata religi, kerajinan batik, hingga seni pertunjukan tradisional. Pengembangan potensi tersebut, menurut Ibas, perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pelaku UMKM dan generasi muda.

Tokoh agama sekaligus pemerhati sejarah dan budaya Kaliwungu, Gus Muis, mengatakan batik setempat memiliki keterkaitan dengan sejarah dan identitas masyarakat. Kaliwungu, menurutnya, menjadi ruang pertemuan nilai-nilai Islam dan kebudayaan Jawa.

“Jadi batik Kaliwungu itu sejarah peradaban masyarakat Kaliwungu, kebanggaan,” ujar Gus Muis.

Ia menekankan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman dan industrialisasi agar identitas lokal tetap terpelihara serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com