Peternak Ayam Petelur Ngeluh Harga Jual Anjlok, Mentan Amran Tawarkan Kasih ke MBG

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:48 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah tengah menggodok harga acuan pembelian telur ayam dan harga eceran tertinggi (HET). Foto Fakhri-Suara.com
BACA 10 DETIK
  • Harga jual telur Rp19.000/kg, di bawah biaya produksi peternak Rp24.000/kg.
  • Pemerintah menggodok harga acuan pembelian telur dan HET untuk melindungi peternak.
  • MBG, Bulog, ID FOOD, dan rencana pabrik tepung telur disiapkan untuk menyerap produksi.

Suara.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengaku pihaknya tengah mencari solusi atas keluhan para peternak ayam petelur soal harga jual yang anjlok. Salah satunya dengan membuat harga eceran tertinggi (HET) dan memasok ke mitra Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam pertemuan dengan perwakilan peternak dari berbagai daerah di Kementan, Jakarta, Selasa (27/10/2026), harga telur di tingkat peternak disebut mencapai Rp24.000 per kilogram, tetapi hanya laku Rp19.000 per kilogram. Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi peternak ayam petelur karena menekan keuntungan usaha.

"Doakan, kita atur dulu harga acuan pemerintah atau harga pembelian pemerintah, kemudian harga eceran tertinggi. Sementara digodok. Kita lakukan terbaik untuk peternak, tapi ingat, konsumen juga tidak boleh korban," kata Amran.

Amran belum merinci besaran harga acuan yang akan ditetapkan maupun waktu pemberlakuannya. Pemerintah masih membahas kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan kepentingan peternak dan keterjangkauan harga telur bagi masyarakat.

Sekretariat Bersama Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (1/3).

Selain mengatur harga, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu penyerapan produksi telur ayam. Salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diharapkan dapat menjadi pasar bagi hasil produksi peternak.

"Pertama, MBG menyerap, kami sudah bicara dengan Kepala BGN," ujar Amran.

Untuk jangka panjang, pemerintah juga merencanakan pembangunan pabrik pengolahan telur menjadi tepung telur melalui badan usaha milik negara (BUMN). Pengolahan ini diharapkan membuka alternatif pemanfaatan telur dan memperluas penyerapan produksi.

"Yang kedua adalah jangka panjang, itu membangun pabrik pengolahan telur, tepung telur," kata Amran.

Sementara untuk penanganan darurat, Amran meminta Perum Bulog dan ID FOOD segera menyerap telur dari peternak. Langkah tersebut diharapkan membantu mengatasi persoalan pemasaran telur yang sedang dihadapi pelaku usaha.

"Yang ketiga adalah untuk darurat kami minta ID FOOD dengan Bulog menyerap, nilainya katanya Rp30 miliar, itu enggak masalah. Bulog sanggup dengan ID FOOD. Jadi kami minta bergerak mulai sekarang," ungkapnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com