Dampaknya tentu saja perputaran uang tersebut di satu sisi membuat sedikit adanya kemajuan sejumlah klub di Belgia yang sebelumnya sama sekali tak dilirik.
Pemahaman orang Belgia soal bagaimana mengembangkan usahanya ke level yang lebih tinggi dengan belajar dari para investor era 90-an hingga 2002 membuat mereka paham bagaimana kemitraan bisnis di sepakbola sangatlah penting jika Pro Jupiler bisa menjadi industri seperti liga-liga di tetangga mereka.
Kota kecil bernama Beveren misalnya. Kota yang memiliki klub sepakbola bernama K.S.K Beveren itu menjalin kemitraan dengan klub papan atas Liga Inggris, Arsenal pada 2003 silam.
Keuntungan Beveran jalin kerjasama dengan Arsenal salah satunya ialah mereka mendapatkan sejumlah produk asli akademi Arsenal, seperti Steve Sidwell yang main di klub tersebut sebagai pemain pinjaman.
Sayang kemudian penyelidikan dari sejumlah pihak menemukan ada kejanggalan dari kemitraan bisnis ini yang justru membuat Beveren tak maju secara kualitas sepakbola.
Fans dari Beveren sayangnya mengelola itu dengan cara yang tidak tepat dan justru membawanya ke permasalahan SARA. Hal itu dikarenakan mereka muak dengan kebijakan klub pada periode 2002-2003 yang hanya memainkan satu pemain asli Belgia dan sisanya ialah pemain asing, mayoritas berasal Afrika.
Teriakan meniru suara monyet sempat terdengar nyaring dari para fans Beveren saat pemain dari Pantai Gading bermain untuk klub tersebut.
Arus investasi dari pihak asing terus masuk ke Belgia tak terbendung setelah periode 2002. Salah satu investor kelas kakap yang datang ke Belgia dan jadi sorotan publik lokal di sana ialah Zheyun Ye, seorang pengusaha rumah judi terbesar di Cina.
Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa Zheyun Ye menaruh uangnya untuk melakukan investasi ke sejumlah klub papan bawah Jupiler League.
Baca Juga: Profil Liam Oetoehganal, Pemain Keturunan Indonesia yang Gabung Klub Liga Belgia
Sayang kehadiran Ye tak serta merta membuat sepakbola di periode itu merangkak maju. Ye diduga menanamkan uangnya untuk skema kotor pengaturan kotor di pertandingan sepakbola Belgia.
Investigasi dari otoritas hukum Belgia menemukan adanya nilai yang tak masuk akal di bursa taruhan pada sejumlah pertandingan di klub yang kabarnya diberikan investasi oleh Ye.
Dalam kelanjutan proses penyelidikan itu, dua klub Lierse dan RAA Louvierosie ditengarai menjadi klub yang meminin skema pengaturan skor di kasta terendah Liga Belgia. “Sepakbola Belgia saat ini berada di era kapitalisme kasino yang merusak,” kata ekonom sepakbola asal Belgia, Toen Wim Lagae.
Efek negatif dari masifnya para investor asing juga terlihat saat penguasaha asal Mesir, Maged Samy mengambil alih klub kecil Belgia, Lierse pada 2007. Samy membeli klub tersebut hanya dengan nilai 3 juta euro.
Di awal kedatangannya Samy bak politikus di Indonesia yang berbicara manis dan memberi jani surga saat masa kampanye. Samy berjanji ke pada suporter Lierse bahwa ia akan membangun stadion baru dan akan mengeluarkan uang banyak untuk datangkan pemain bagus.
Sayang semua itu tak dilaksanakan oleh Samy. Stadion baru tak ada, pemain bagus yang ia janjikan malah pemain-pemain dari klub kecil Mesir, Wadi Degla, klub yang juga dimiliki oleh Samy.
Selama empat musim berturut-turut sejak 2007, Lierse tak jua beranjak dari papan bawah Jupiler League. Samy bahkan seperti pemilik Cardiff City, Vincent Tan yang mengubah logo dan jersey klub. Bagi suporter Lierse apa yang dilakukan oleh Samy hanyalah untuk membuat ia mendapat pemasukan tiap tahun dari hak siar sebesar 10 juta euro.
Menariknya tingkah dari para investor kelas kakap yang berasal dari Cina dan Timur Tengah yang dianggap merusak Jupirer League juga dilakukan oleh orang Indonesia.
Publik Belgia seperti laporan dari These Football Times sangat kesal saat grup Bakrie datang ke CS Vise dan menanamkan modalnya pada 2011. Bagi suporter CS Vise kedatanga grup Bakrie ini seperti mengubah klub tersebut menjadi salah satu klub sepakbola seperti acara reality show.
Tak jelas apa yang ingin dilakukan grup Bakrie saat menanamkan modal di CS Vise. Tak ada hal signifikan yang dilakuan grup Bakrie saat mengambil alih CS Vise. Malah hampir sama dengan Samy di Lierse, grup Bakrie juga tak malu membawa sejumlah pemain Indonesia yang tak memenuhi standar untuk bisa main di CS Vise.
Salah satu pemain itu saat ini seperti yang disebut publik Belgia menjadi artis di acara reality show. Setelah tak banyak melakukan hal signifikan pada CS Vise, grup Bakrie angkat koper dari klub tersebut pada 2014.
Tag
Berita Terkait
-
Setelah Tiga Musim, Eden Hazard Berpeluang Tampil di Final Pertamanya Bersama Real Madrid
-
AC Milan Resmi Boyong De Ketelaere dari Club Brugge
-
Momen Duel Sandy Walsh vs Radja Nainggolan di Liga Belgia
-
Lima Transfer Pemain Terburuk dalam Sejarah Sepak Bola Modern
-
Hasil Real Madrid vs Club America: Kemenangan Los Blancos Dibuyarkan Penalti Penghujung Laga
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
Demo Anti Piala Dunia Memanas, Pendemo Berbaju Hitam-hitam Serang Suporter
-
Australia Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia U-19, Erick Thohir Singgung Soal Kualitas
-
KWP Bareng BNI Salurkan 2000 Paket Alat Sekolah di Tiga Daerah
-
Kamu Harus Tahu! 7 Aturan Baru Piala Dunia 2026: VAR Kini Lebih Berkuasa
-
Siapa Wasit Laga Pembuka Piala Dunia 2026? Sosok Kontroversial dari Brasil
-
Herman Khaeron Apresiasi KWP Berbagi, Dorong Peningkatan Kegiatan Sosial di DPR RI
-
Detik-detik Pembukaan Piala Dunia 2026: 80.000 Suporter Padati Stadion Azteca
-
Pelanggaran Fatal Terungkap! 6 Fakta di Balik Penangguhan 41 Dapur Makan Bergizi Gratis di Tangsel
-
Siapa 'Pimpinan Berjenjang' BPK yang Disebut Titin Rita dalam Kasus Edison Muara Enim?
-
Jutaan Ikan Mati Mendadak di Mempawah, Kerugian Pembudidaya Diperkirakan Miliaran