/
Jum'at, 23 September 2022 | 13:40 WIB
Nurnaningsih | Wikipedia

Dari film ke foto majalah

Setelah film Harimau Tjampa, imej publik kepada Nurna berubah drastis. Ia pun sempat dijuluki sebagai Marilyn Monroe Indonesia. 

Nurna sendiri tak berhenti mengeksplorasi tubuhnya. Setelah dari film, Nurna kerap tampil di foto majalah. Hebatnya, foto-foto Nurna dengan pose-pose menantang tak hanya tersebar di Jakarta tapi sampai ke luar negeri. 

Pertengahan 1954, foto telanjang Nur beredar. Dibuat fotografer tak dikenal. Foto tubuh Nurna pun viral.

Konon katanya foto-foto itu dijual Rp 200 perak per lembar. Kemudian harganya melonjak drastis sampai ke Rp 300 perak per lembar. 

Viralnya foto Nurna pun membuat polisi saat itu terpaksa turun tangan untuk menghentikan peredar foto tersebut. 

Kabarnya ada 9 foto asli Nurna menantang yang tersebar ke pasaran. Namun hanya ada 7 foto yang berhasil disita polisi. 

Dari 9 foto asli itu kemudian terus dicetak dan akhirnya tersebar luas di pasar gelap. Pada bagian perjalanan hidupnya ini, Nurna sempat berkata lirih. 

"Tapi, saya, selain tidak dapat apa-apa juga dapat susah karena harus bolak-balik menghadap kantor polisi bagian kesusilaan," ucapnya kepada majalah Djambak. 

Baca Juga: Terpopuler: Viral Film Dewasa Mirip Jeje Slebew, Pria Gesek-gesek Kemaluan di KRL Depok Hingga Sosok Dibalik Bjorka

Yang tak kalah menarik, Nurna sempat mengaku bahwa dalam sesi pemotretan itu, ada tujuh oknum tentara yang berani membayar besar demi bisa memotret tubuh Nurna tanpa sehelai benang pun. 

Karier Nurna pada era 80-an mulai meredup. Ia mulai hilang dari sorotan media. Meski sebenarnya ia masih aktif di dunia teater. 

Perempuan asal Surabaya yang putus sekolah sejak kelas satu SMA itu mengembuskan napas terakhir pada 21 Maret 2004, pada usia 78 tahun.

Deretan film Nurnaningsih

Krisis (1953)
Harimau Tjampa (1954)
Klenting Kuning (1954)
Kebun Binatang (1955)
Djakarta, Hongkong, Macao (1968)
Orang Orang Liar (1969)
Bernafas Dalam Lumpur (1970)
Derita Tiada Achir (1971)
Samtidar (1972)
Nafsu Gila (1973)
Seribu Janji Kumenanti (1972)
Kembang-Kembang Plastik (1977)
Donat Pahlawan Pandir (1978)
Bayang-Bayang Kelabu (1979)
Remang-Remang Jakarta (1981)
Pertunangan (1985)
Malam Satu Suro (1988)

*Dari berbagai sumber

Load More