Ia tak pernah membayangkan instruksi kepada anak buahnya menjadi penyebab ratusan orang meninggal dunia di tribun penonton.
Si komandan polisi mengakui bahwa dirinya yang memberikan perintah untuk menembakkan gas air mata ke arah suporter di tribun stadion.
"Saya memerintahkan tabung gas air mata untuk ditembakkan ke tribun. Saya tidak mengatakan berapa banyak. Saya tidak pernah membayangkan konsekuensi yang menghancurkan itu," ucap Komandan Jorge de Azambuja mengutip dari revistalibero.com
Jorge de Azambuja ialah komandan polisi yang bertanggung jawab pada keamanan di Stadion Nacional, Peru, tempat pecahnya tragedi yang menewaskan 328 suporter pada 24 Mei 1964.
Tragedi di Stadion Nacional Peru menjadi sejarah kelam dunia sepak bola internasional. Sampai saat ini tragedi tersebut jadi insiden berdarah dengan korban jiwa tertinggi dalam sejarah sepak bola dunia.
Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang tewaskan 131 orang berada di tempat kedua. Kedua tragedi mengenaskan dari dunia sepak bola ini sama-sama disebabkan adanya tembakan gas air mata yang dilakukan polisi ke arah tribun penonton.
de Azambuja beralasan perintahnya untuk tembakkan gas air mata ke arah penonton untuk mencegah suporter turun ke lapangan.
Peristiwa berdarah di Estadio Nacional terjadi saat laga Peru vs Argentina pada babak kualifikasi kedua zona Conmebol Olimpiade Tokyo.
Insiden berdarah di Peru itu berawal dari keputusan wasit untuk menganulir gol tim tuan rumah. Sebelum keputusan wasit tersebut, kedua tim bermain imbang tanpa gol di babak pertama.
Baca Juga: Tim Advokasi Tragedi Kanjuruhan Minta Pertanggungjawaban Pihak Keamanan
Pada babak kedua, Argentina unggul 1-0 lewat gol Nestor Manfredi. Memasuki pertengahan babak kedua, Peru berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Victor Lobaton. Namun gol itu kemudian dianulir oleh wasit asal Uruguay, Angel Eduardo Pazos.
Pazos menganulir gol itu karena menganggap terjadi pelanggaran terlebih dahulu sebelum Lobaton merobek gawang Argentina. Putusan ini diprotes pemain dan suporter Peru.
Suasan makin panas memasuki menit-menit akhir pertandingan. Puncaknya, pria bernama Víctor Vásquez yang kemudian dikenal dengan sebutan Negro Bomba turun ke lapangan.
Víctor Vásquez berusaha menyerang wasit Pazos dengan pecahan botol. Namun usahanya dicegah aparat keamanan. Panitia pertandingan kemudian memutuskan untuk menghentikan laga karena merasa tidak ada jaminan keamanan.
Putusan ini makin membuat kondisi tribun memanas. Botol, kursi serta kayu dilempar para suporter ke arah lapangan. Sejumlah suporter juga berhasil meringsek masuk ke dalam lapangan.
Kepolisian Peru kemudian melepaskan anjing dan mulai menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. Kepanikan pecah, para suporter berusaha untuk keluar stadion. Nahas buar mereka pintu stadion tertutup rapat.
Berita Terkait
-
Lirik Lagu "Kanjuruhan" Iwan Fals Mengisahkan Kesedihan Tragedi Kanjuruhan
-
Malam Jahanam di Pintu 13, Cerita Detik-detik Jelang Tragedi Kanjuruhan dari Luar Tribun
-
Tim Investigasi Polri Periksa 31 Polisi Terkait Tragedi Kanjuruhan Malang
-
Viral Lagu Iwan Fals untuk Korban Jiwa Tragedi Kanjuruhan, Warganet Sampai Teteskan Air Mata
-
Haris Azhar : Tragedi Kanjuruhan adalah Pelanggaran HAM
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Puluhan Lansia di Prabumulih Dapat Layanan Kesehatan Gratis, Menjaga Tetap Sehat di Usia Senja
-
Nomor 7 Tetap Milik Ronaldo! Pemain Ini Warisi Nomor Mendiang Diogo Jota di Piala Dunia 2026
-
Mengapa Jakarta Masih Berpotensi Hujan Saat Musim Kemarau? BMKG Jelaskan Penyebabnya
-
Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok
-
Javaco Hadir di Palembang, Pengrajin Lokal Jadi Fokus Lewat Program Suara Jagoan
-
Heboh Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG, Istana Turun Tangan Lakukan Audit Internal
-
Akhir Penantian 40 Hari, 443 Jemaah Haji Asal OKU Timur Kembali ke Pelukan Keluarga
-
Pendapatan Hampir Sesuai Target, Mengapa Ada Rp138 Miliar Dana Tersisa di APBD Pontianak?
-
Terungkap! Ini Catatan yang Membuat Dadan Hindayana Kehilangan Kursi Kepala BGN
-
Dasco Bongkar Alasan Nanik Layak Gantikan Dadan Hindayana di BGN