Salah satu komoditi yang menjadi buruan masyarakat jelang bulan suci Ramadan ialah tempe. Jelang bulan Ramadan, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan berjanji harga tahu dan tempe akan turun jelang Ramadan 2023.
Di pasaran, ukuran tempe mulai menyusut alias mengecil. Langkah ini dilakukan pengrajin tempe untuk menyiasati harga kedelai yang melonjak.
Siapa orang Indonesia yang tidak pernah makan tempe? Hampir semua mereka yang tinggal dari Sabang sampai Merauke tentu pernah mengkonsumsi makanan yang terbuat dari keledai tersebut.
Tempe sendiri merupakan makanan yang sudah ada di Indonesia sejak zaman kerajaan. Menurut buku Bunga Rampai Tempe Indonesia, kata kedelai yang ditulis kadele dalam bahasa Jawa ditemukan dalam Serat Sri Tanjung. Selain itu, dalam karya sastra terkenal lainnya, Serat Centhini, keledai juga ditemukan.
Pada jilid kedua Serat Centhini, saat Cebolang dari Purbalingga ke Mataram dan istirahat di rumah Ki Amongtrustha. Si tuan rumah menghidangkan lauk bubuk dhele. Menurut ahli botani asal Jerman, Rumphius, kedelai (de cadelie plant) dalam bahasa latin disebut phaseolus niger, kadele dalam bahasa Jawa, zwartee boontjes (Belanda), dan authau untuk bahasa Tiongkok.
Kedelai sendiri menurut sejarahnya mulai dikenal di wilayah Manchuria, Tiongkok, sekitar tahun 2838 sebelum Masehi.
Dalam buku berjudul Chinese Materia Medica yang ditulis oleh Kaisar Sheng Nung, kedelai dianggap sebagai satu dari lima tanaman utama, empat lainnya adalah padi, gandum, barley, dan jawawut. Orang Tiongkok menyantap kedelai secara langsung atau diolah menjadi produk panganan kering.
Kedelai kemudian menyebar ke sejumlah negara tetangga Tiongkok seperti Jepang. Di periode 1894 hingga 1895, masyarakat Jepang banyak mengimpor kedelai dalam bentuk minyak. Sedangkan pada masyarakat Eropa, kedelai mulai dikenal pada 1712. Menurut catatan ahli botani asal Jerman, negara Prancis menjadi negara di Eropa yang masyarakatnya menanam kedelai.
Kedelai juga baru dikenal di Amerika Serikat tepatnya pada 1765 di kawasan Pennsylvania. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa titik kedelai di Pennsylvania dibawa oleh pedagang Tiongkok dan India.
Baca Juga: Menengok Harta Chairul Tanjung Usai Gerai Transmart Miliknya Berguguran, Masih Crazy Rich?
Versi lain menyebut, kedatangan ini terjadi di tahun 1851, melalui bibit yang disimpan oleh orang Amerika yang terselamatkan di Laut Pasifik di tahun 1850.
Abad ke-16 di Jawa telah ditemukan kata tempe, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan.
Dalam catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jaw, mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.
Bagi masyarakat di Indonesia, khususnya yang tinggal di Pulau Jawa, tempe kemudian naik derajat. Tidak sekedar menjadi makanan juga memiliki nilai filosofi tersendiri. Di Pacitan, Jawa Timur misalnya, proses pembuatan tempe menjadi cermin kerjasama antara anggota keluarga.
Tempe juga dianggap sebagai penyelamat orang Indonesia saat sistem tanam paksa menyiksa di peridoe 1830 hingga 1870. Penerapan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel di Jawa jadi masa paling sulit bagi masyarakat.
Dari buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV, masyarakat di sejumlah daerah di Jawa meninggal dunia akibat kelaparan. Saat itu, jumlah penduduk Demak telah turun dari 336.000 sampai 120.000, sedangkan jumlah penduduk Grobogan turun dengan lebih banyak lagi, yaitu 89.500 sampai 9.000.
Budayawan Dr. Onghokham mengatakan, masyarakat Jawa pada zaman tanam paksa Belanda di abad ke-19, terpaksa mengonsumsi tempe yang tidak sengaja mereka temukan sebagai penyelamat kesehatan penduduk.
Yang menarik kemudian, tempe jauh sebelum tanam paksa ternyata pernah menjadi makanan khusus para raja dan bangsawan di Jawa. Pada serat Centhini, para pembesar itu menyujukan para tamu dengan jenis makanan bernama sambal tumpang.
Berita Terkait
-
Nikmati 8 Varian Olahan Tempe Malang, Bisa Buat Alternatif Oleh-oleh!
-
Jokowi Bangga, Kini Investasi Bukan Lagi Jawasentris
-
Awal Tahun, RI Lakukan Impor Pangan 4 Komoditas
-
Harga Kedelai, Bawang Hingga Daging Naik Tak Karuan
-
Nggak Usah Olahraga di Gym, Begini Caranya Punya Lengan Berotot Sambil Masak di Dapur
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Botok: Jika RUU Perampasan Aset Tak Sah Desember, Dasco, Saan, dan Cucun Siap Mundur
-
Hakim Tolak Perlawanan Yaqut Cholil Qoumas, Sidang Korupsi Kuota Haji Berlanjut!
-
Meski Diterima Pimpinan DPR, Botok Pati Pastikan Aksi 27 Agustus Tetap Lanjut
-
Bawa Tuntutan Hukum Mati Koruptor, Botok Cs Diterima Masuk ke Rapat Paripurna DPR
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
Terkini
-
5 Sepatu Lari Lokal dengan Midsole Empuk untuk Daily Run, Ada yang Bisa Meningkatkan Pace
-
Arti Kelelawar Masuk Rumah di Malam Hari Menurut Primbon Jawa, Pertanda Rezeki?
-
Honda Rebel 40 Jutaan Hadir, Intip Pesona Cruiser Gagah Ramah Dompet
-
Pimpinan DPR Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Tak Kelar 15 Desember
-
Cerdas Kelola Finansial, BRI Multiguna Tawarkan Pencairan Kilat dan Bonus Jutaan
-
Bukan di DPR, Front Mahasiswa Nasional Pilih Demo di Istana untuk Sampaikan 10 Tuntutan
-
Antisipasi Sajam dan Molotov! Polisi Periksa Acak Massa Demo DPR
-
Jejak Perjalanan MAXI Toer Boemi Nusantara Melintasi Enam Pulau Besar Indonesia Resmi Berakhir
-
Hampir Tiap Pekan Ada Laporan, ODGJ Mulai Kepung Ruang Publik Cimahi?
-
Muktamar NU Memanas! Isu Menag Nasaruddin Umar Mundur Demi Kursi Ketum PBNU Bikin Geger