/
Jum'at, 14 Juli 2023 | 21:51 WIB
Gubernur Anies Baswedan bertemu dengan Yenny Wahid, putri eks Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Balai Kota DKI Jakarta pada Senin (19/9/2022) siang. (Suara.com/Arga)

Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid santer digosipkan bakal jadi bakal calon wakil presiden Anies Baswedan. Nama Yenny Wahid mengemuka jadi bakal calon wapres Anies Basweda, setelah calon presiden dari Partai Nasdem ini kasih kode kriteria pendampingnya.

Yenny Wahid sendiri tegasknya bahwa sampai saat ini ia enggan menanggapi soal gosip politik itu. Menurutnya, ia masih berkomunikasi dengan sejumlah tokoh politik. 

"Saya belum mau menjawab, saya komunikasi dengan semua tokoh-tokoh partai, tokoh-tokoh politik,” ungkap Yenny Wahid, dikutip dari tayangan Kompas TV.

Kekinian, Anies Baswedan pun tak mau merespon lebih jauh gosip politik bahwa Yenny Wahid bakal jadi pendampingnya pada Pemilu 2024

Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid adalah putri kedua pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah. Ia memiliki kakak Alisa Wahid dan dua adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid. 

Sebagai anak Presiden ke-4, Yenny Wahid yang lahir di Jombang, Jawa Timur ditempa dengan pola pendidikan Nahdlatul Ulama. 

Tak mengherankan jika pola pikirnya tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang moderat dan membawa pesan damai. 

Lulus dari SMAN 28 Jakarta pada 1992, Yenny menempuh studi Psikologi di Universitas Indonesia. Namun di UI, Yenny tak sampai lulus. 

Atas saran Gus Dur, ia pindah ke Universitas Trisakti mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Setelahnya, Yenny melanjutkan studi administrasi publik di Universitas Harvard. 

Baca Juga: Punya Gagasan Kementerian Perkotaan, Anies Baswedan Jiplak Konsep Negeri Vrindavan?

Di kariernya, Yenny Wahid ternyata pernah menjadi wartawan. Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur dan Aceh. Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) antara tahun 1997 dan 1999. 

Bahkan, liputannya mengenai Timor Timur pasca referendum mendapatkan anugrah Walkley Award. 

Dalam perjalanan kariernya, Yenny Wahid juga kerap diterpa hal kontroversial. Di era Presiden SBY, Yenny tiba-tiba mundur sebagai staf khusus bidang Komunikasi Politik. 

Alasannya, ia tak ingin danya perbedaan kepentingan dengan jabatannya pada Partai Kebangkitan Bangsa. Sayangnya PKB memberhentikan Yenny Wahid pada 2008. 

Yenny kemudian mendirikan partai politik sendiri dengan nama Partai Kedaulatan Bangsa. Kemudian pada 2012, Partai Kedaulatan Bangsa dan Partai Indonesia Baru (PIB), yang dipimpin oleh Kartini Sjahrir, melebur menjadi satu dengan nama Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB). 

Load More