Bola / Bola Dunia
Sabtu, 26 Maret 2022 | 09:36 WIB
Ekspresi Roberto Mancini saat memimpin timnas Italia dalam pertandingan Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2022 lawan Irlandia Utara pada 16 November 2021. ANTARA/Reuters/JASON CAIRNDUFF

Revolusi besar digaungkan Mancini di awal tenor kepelatihannya dengan skuad Italia yang berisikan tak satu pun pemain dari tim-tim besar berbasis di Milan, Roma maupun Turin.

Petualangan Mancini dan revolusi besarnya terus membuahkan hasil-hasil menawan hingga puncaknya ia mampu membimbing Italia tampil di final EURO 2020 melawan Inggris.

Laga di Wembley pada 11 Juli 2021 itu bukan saja menyudahi paceklik Italia tampil di final sebuah turnamen besar, tetapi dilengkapi dengan keberhasilan mengalahkan Inggris lewat adu penalti yang mengakhiri puasa gelar Gli Azzurri setelah Piala Dunia 2006.

Tak berhenti sampai di situ, Mancini juga sukses membuat Italia memecahkan rekor baru yakni rentetan nirkalah dalam 36 pertandingan kompetitif melampaui Brazil dan Spanyol yang sebelumnya berbagi rekor itu.

Pemecahan rekor pada 5 September 2021 dengan hasil imbang 0-0 melawan Swiss dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa Grup C itu diikuti dengan penajaman tiga hari kemudian saat Italia menang telak 5-0 atas Lithuania di Reggio Emilia.

Sayangnya, rekor itu berakhir sebulan berselang ketika Italia takluk 1-2 melawan Spanyol dalam semifinal final four UEFA Nations League 2020/21 pada 6 Oktober 2021.

Empat hari sesudah rekor itu berakhir, Italia mampu mengalahkan Belgia dalam perebutan tempat ketiga UEFA Nations League 2020/21 tetapi sejak itu grafik penampilan Gli Azzurri bergerak menuju jurang perjalanan revolusi mereka bersama Mancini.

Italia gagal menang dalam dua pertandingan terakhir di kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa Grup C ditahan imbang 1-1 oleh Swiss di Roma pada 12 November dan cuma bermain nirgol di Belfast melawan Irlandia Utara.

Dua hasil itu memaksa Italia yang hingga pertandingan ketujuh masih memuncaki Grup C berakhir di posisi kedua klasemen akhir dan harus melewati fase playoff untuk perebutan satu dari tiga tiket terakhir putaran final Piala Dunia 2022 bagi zona Eropa.

Baca Juga: Bawa Wales Taklukkan Austria, Gareth Bale Kecam Pengkritiknya

Selepas kekalahan melawan Makedonia Utara di Palermo, Kamis (24/3) kemarin, lengkap sudah puncak dan jurang revolusi Mancini bersama Italia.

"Juli lalu (menjuarai EURO 2020) merupakan hal terbaik yang saya alami di level profesional, dan ini adalah kekecewaan terbesar," kata Mancini selepas kekalahan itu.

"Sayangnya, inilah sepak bola, hal-hal luar biasa terjadi di dalamnya, pertandingan semacam ini misalnya, kami memiliki begitu banyak kesempatan."

"Sejak menjadi juara Eropa, mungkin keberuntungan yang menaungi kami berbalik menjadi kesialan, sekarang kami harus tahu apa itu sebuah penderitaan," ujar Mancini.

Berdamai dan beranjak

Seperti yang dikatakan Mancini, ini saatnya bagi skuad Gli Azzurri untuk memahami penderitaan, berdamai dengannya dan beranjak menuju tantangan yang masih akan menanti mereka di masa mendatang.

Tentu saja, berdamai dan beranjak jauh lebih mudah dikatakan ketimbang dilakoni. Ambil contoh Jorginho, pemain terbaik UEFA 2020/21 itu mengaku ia sepertinya akan dihantui dua kegagalannya di sisa masa hidupnya.

Sejak memulai karier profesionalnya, Jorginho punya statistik gemilang dalam urusan mengkonversi tendangan titik putih dengan 38 keberhasilan dalam 44 kesempatan.

Tidak ada waktu yang tepat bagi sebuah kegagalan, tapi Jorginho jelas menyesali mengapa dua kegagalan penaltinya harus lahir dalam dua momen penting yang bisa memuluskan jalan Italia tampil di putaran final Piala Dunia 2022.

Dua-duanya datang ketika Jorginho harus berhadapan dengan kiper gaek Swiss Yann Sommer. Pada 5 September 2021 eksekusi penalti Jorginho begitu dekat dengan jangkauan Sommer dan publik tuan rumah Swiss bersorak sorai merayakan kegagalan itu dengan pertandingan yang berakhir imbang nirgol.

Lantas pada 12 November 2021 Jorginho berpeluang untuk menjadi pemecah kebuntuan 1-1 melawan Swiss di Roma saat berjalan mendekati titik putih tepat di pengujung waktu normal dan membawa satu kaki Italia ke Qatar. Yang terjadi justru lebih ironis sebab eksekusi penalti Jorginho melambung tinggi di atas mistar gawang, laiknya sebuah ramalan harapan Italia yang kemudian hilang beberapa bulan berselang.

"Sungguh sakit bila memikirkannya, saya masih terbayang-bayang dan mungkin itu akan menghantui sepanjang hidup saya," kata Jorginho kepada RAI Sport setelah Italia disingkirkan Makedonia Utara.

"Dua kali berada di dekat titik putih dan tak mampu membantu timmu, negaramu adalah sesuatu yang akan membekas bersama saya."

"Orang-orang bilang kita harus terus menegakkan kepala dan terus melangkah, tapi itu sungguh berat," katanya.

Jorginho kini sudah memasuki umur kepala tiga dan genap berusia 31 tahun ketika putaran final Piala Dunia 2022 berlangsung di Qatar nanti.

Ketika Italia gagal mencapai putaran final Piala Dunia 2018, sedikitnya tiga nama veteran yakni Andrea Barzagli, Daniele De Rossi dan kiper legendaris Gianluigi Buffon memutuskan pensiun dari timnas. Hal itu juga disusul pemecatan Ventura dari kursi pelatih timnas dan pengunduran diri Carlo Tavecchio dari jabatan presiden federasi sepak bola Italia, FIGC.

Menilik skuad Italia saat ini, selain Jorginho sedikitnya ada tujuh nama lain yang sudah berusia kepala tiga termasuk kapten mereka Giorgio Chiellini (37) dan tandem abadinya Leonardo Bonucci (34).

Bukan tidak mungkin tren pensiun juga akan mengikuti kegagalan Italia tampil di Piala Dunia 2022 ini, tetapi yang patut dipertanyakan adalah apakah Mancini masih punya resolusi untuk membangkitkan kembali revolusinya di Gli Azzurri.

"Saat ini terlalu dini untuk membicarakan masa depan, kami harus mencerna kekalahan ini. Secara hubungan antarmanusia, saya bisa bilang saya mencintai para pemain ini lebih dalam ketimbang setelah kesuksesan Juli lalu," kata Mancini.

Pada akhirnya Mancini memang hanya punya pilihan berdamai dengan kegagalannya dan beranjak menumbuhkan kembali benih-benih era baru timnas Italia, atau berdamai dan beranjak sepenuhnya dengan salam perpisahan berupa kegagalan.

[Antara]

Load More