Bola / Bola Indonesia
Selasa, 16 Juli 2024 | 10:00 WIB
Legenda Timnas Indonesia Rochy Putiray (Instagram @rochi21putiray)

"Kita enggak bisa minta hasil cepat, semua ada prosesnya. Jadi menurut saya Piala Asia nanti jangan lihat hasilnya, lihat prosesnya," ujar Rochy.

Ia menilai Shin Tae-yong telah menunjukkan kerja kerasnya dalam membangun mentalitas dan gaya bermain baru Timnas.

Rochy membandingkan pendekatan Shin Tae-yong dengan Luis Milla.

Legenda Timnas Indonesia Rochy Putiray (Instagram @rochi21putiray)

"Luis Milla punya pendekatan style dan taktik bermain, sedangkan Shin Tae-yong itu mindset untuk berani fight," ungkapnya.

Menurutnya, Shin Tae-yong telah membawa angin segar bagi Timnas Indonesia.

"Coba lihat, pelatih mana yang membawa Timnas Indonesia bisa mencetak gol dan menang kalau bermain di kandang lawan? Ya hanya Milla dan Shin Tae-yong," tegasnya.

Rochy meyakini, kesuksesan tim nasional membutuhkan waktu dan kerja sama semua pihak.

Ia mencontohkan klub Unsa Asmi yang baru 27 tahun setelah didirikan bisa berkompetisi di Liga 3.

Ia pun mendorong pembenahan dari Askot, Askab, Asprov, hingga PSSI untuk menghasilkan generasi pesepakbola yang berkualitas.

Baca Juga: Link Live Streaming dan Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Filipina di Piala AFF U-19 2024

Profil Rochy Putiray

Lahir di Situbondo pada 26 Juni 1970, Rochy Melkiano Putiray menjelma menjadi legenda sepak bola Indonesia. Sosoknya tak hanya dikenal di tanah air, tapi juga di kancah internasional.

Legenda Timnas Indonesia Rochy Putiray (Instagram @rochi21putiray)

Karier Rochy dimulai bersama Arseto Solo, di mana ia mengukir prestasi gemilang dengan 177 gol dari 219 pertandingan.

Ketajamannya di lapangan mengantarkannya ke tim nasional Indonesia, di mana ia turut mengantarkan Merah Putih meraih medali emas SEA Games 1991.

Kesuksesan Rochy menarik perhatian Calude Leroy, pelatih timnas Malaysia saat itu.

Claude bahkan memuji Rochy dalam sebuah wawancara media, membuat namanya semakin dikenal.

Sayangnya, mimpi Rochy untuk bermain di Eropa harus tertunda. Uji coba bersama Auxerre di usia 24 tahun gagal karena dianggapnya terlalu tua.

Rochy tak patah semangat. Ia melanjutkan karirnya di Hong Kong bersama Instant-Dict FC.

Di sana, ia berhasil membawa klubnya meraih gelar runner-up liga utama dan FA Cup Hong Kong pada musim 2000-2001.

Salah satu momen paling berkesan dalam karir Rochy adalah saat ia berhasil membobol gawang AC Milan sebanyak dua kali.

Pertandingan melawan raksasa Italia itu terjadi pada musim 2003-2004 bersama Kitchee SC.

Sekembali dari Hong Kong, Rochy kembali berlaga di Indonesia, membela klub-klub seperti Persija Jakarta, PSM Makassar, PSS Sleman, PSPS Riau, dan Sriwijaya FC.

Dedikasi dan kegigihannya menjadikannya salah satu legenda sepak bola Indonesia yang tak terlupakan.

Load More