"Di Korea Utara, jika Anda berusia 13-14 tahun, mereka mengikuti pelatihan yang sangat displin, sangat sistematis, dan sangat profesional," jelasnya.
Bahkan khusus untuk tim sepak bola wanita, Korut mendirikan Sepak Bola Internasional Pyongyang yang menjadi kawah candradimuka gadis-gadis Korut untuk jadi pemain profesional.
Faktanya, tim sepak bola wanita Korea Utara jadi salah satu kekuatan di dunia. Berbeda memang dengan tim putra mereka.
Terlepas dari perbedaan prestasi itu, masih menurut Jung Woo Lee. Tempaan fisik ekstrem biasa dihadapi oleh pemain-pemain muda Korut.
"Saya melihat beberapa laporan tentang metode pelatihan di Korut. Di bawah rezim ini, mereka melakukan apa pun yang bisa dilakukan, bahkan jika si pemain kelelahan fisik,"
"Mereka akan menganalisis secara mentalitas dan dibandingkan dengan negara-negara Barat. Jika di negara Barat, pemain yang kelelahan fisik atau cedera tidak bisa tampil, dalam sistem Korut mereka akan mencari cara apapun dan mengubahnya," jelasnya.
Salah satu cara yang dilakukan ialah melakukan propaganda dengan mengandalkan elemen psikologis.
Para pemain ditumbukan rasa patriotisme yang kuat dan kerja keras selama bertahun-tahun. Menariknya, pemerintah Korut kemudian mengeluarkan kebijakan insentif untuk pemain.
Menurut laporan DW, rezim Korut dapat mengeluarkan sertifikat tempat tinggal bagi pemain yang bertempat tinggal di luar ibu kota.
Baca Juga: Profil Korea Utara, Lawan Timnas Indonesia U-17 di Perempat Final Piala Asia U-17 2025
Insentif itu bisa membuat si pemain dan keluarganya untuk tinggal di Pyongyang dan mengubah kehidupan mereka.
"Itu seperti cara untuk mengubah hidup mereka. Ini seperti cara untuk memenangkan lotere," ujar Jung Woo Lee.
Salah satu mantan pemain pesepak bola Korea Utara memberikan pengalamannya bermain di sana.
David--begitu nama samarannya kepada NK News menjelaskan beratnya jadi pesepak bola muda di Korut.
"Di pagi hari, kami pergi ke sekolah untuk mengikuti kelas. Sore hari, siswa lain bekerja atua mengambil kelas tambahan. Untuk pesepak bola kami latihan keras,"
"Ketika saya menjadi siswa SMA, saya mulai menjalani hidup sebagai pemain sepak bola sepenuhnya. Saya pindah ke klub profesional yang disebut Sekolah Olaraga Pemuda,"
Untuk jadi pemain sepak bola, sejumlah pemain muda harus menerima nasib bahwa mereka tidak didukung fasilitas memadai.
"Di antara masalah lainnya, saya menghadapi banyak tekanan. Selain itu, sepatu saya dan kaus kaki sering berlubang," ujarnya.
Menariknya, tim nasional Korut sebenarnya dalam tiga tahun terakhir tidak mempunya jam terbang. Hal ini lantaran mereka absen di kompetisi internasional.
Menurut ulasan sejumlah media di Korsel, Korut meski tidak berkompetisi internasional selama 3 tahun terakhir masih berstatus tim yang kuat.
Korea Utara punya catatan apik dalam sejarah ajang Piala Asia U-17. Siapa sangka, mereka ternyata pernah meraih juara Piala Asia U-17 sebanyak dua kali.
Berita Terkait
-
Profil Korea Utara, Lawan Timnas Indonesia U-17 di Perempat Final Piala Asia U-17 2025
-
Kiper Belanda Soroti Ragnar Oratmangoen Cs Pilih Timnas Indonesia: Lucu Sekali Mereka
-
Babak 8 Besar AFC U-17: Indonesia dan Oman Selamatkan Turnamen dari Perang Saudara!
-
Sering Cedera, Mees Hilgers Dijuluki Manusia Kaca di Liga Eropa
-
Update Pemain Abroad: Maarten Paes Jatuh Bangun Bikin 3 Penyelamatan, FC Dallas Keok
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali