Bola / Bola Indonesia
Senin, 09 Februari 2026 | 12:31 WIB
Mauricio Souza (Ileague)
Baca 10 detik
  • Arema FC berhasil mengalahkan Persija Jakarta dengan skor meyakinkan di Stadion GBK.

  • Marcos Santos mengkritik sikap Mauricio Souza yang dianggap kurang rendah hati saat kalah.

  • Intervensi VAR membatalkan gol Gustavo Almeida yang menjadi titik balik kekalahan Persija Jakarta.

Suara.com - Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi bisu rivalitas panas antara Persija Jakarta dan Arema FC.

Pertemuan pekan ke-20 Super League 2025/2026 ini menyajikan tensi tinggi yang berlanjut hingga peluit panjang.

Singo Edan berhasil membawa pulang poin penuh meski atmosfer pertandingan sangat mencekam sejak menit pertama.

Gesekan fisik dan adu mulut antarpemain menjadi bumbu penyedap dalam duel klasik penuh gengsi tersebut.

Puncak perselisihan terjadi ketika ofisial dan staf pelatih kedua tim terlibat ketegangan di area teknis.

Marcos Santos dan Mauricio Souza sempat tertangkap kamera bersitegang sebelum meluncur ke lorong ruang ganti.

Nakhoda Arema FC itu akhirnya memberikan klarifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di pinggir lapangan.

Santos berpendapat bahwa insiden tersebut merupakan reaksi spontan dari tekanan hasil akhir pertandingan yang ada.

Ia menampik adanya dendam pribadi yang mendasari keributan dengan juru taktik tim Macan Kemayoran tersebut.

Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan di Balik Batalnya Transfer Ragnar Oratmangoen ke Super League

Pelatih asal Brasil ini justru menyoroti sikap kolega senegaranya yang dianggap gagal mengontrol emosi jiwa.

"Tidak, saya rasa Mauricio sedang emosi. Saya rasa dia sedikit kurang rendah hati dalam kekalahan itu karena dia tidak perlu menekan pemain kami yang berada di bangku cadangan, kan?" katanya kepada awak media.

Pernyataan ini merujuk pada aksi provokasi yang diduga dilakukan Souza terhadap pemain cadangan tim tamu.

Santos merasa ada perbedaan sikap yang kontras jika dibandingkan saat pertemuan pertama kedua tim musim ini.

"Saya rasa dia sedikit kurang rendah hati dalam menerima kekalahan. Sesuatu yang, saat di Malang ketika kami kalah, saya menyapanya dan menyampaikan rasa hormat sepanjang waktu," tambahnya.

Bagi Santos, sportivitas tetap harus dijunjung tinggi tanpa mempedulikan hasil skor yang terpampang di papan.

Persija Jakarta sejatinya tampil sangat agresif dan mengurung pertahanan Arema FC sepanjang waktu pertandingan berjalan.

Pendukung tuan rumah sempat bersorak girang saat Gustavo Almeida menggetarkan jala gawang pada menit ke-77.

Momen itu berawal dari tendangan keras Maxwell Souxa yang tidak mampu diamankan secara sempurna oleh Adi Satryo.

Gustavo menyambar bola muntah tersebut untuk mencetak skor yang seharusnya membawa Persija memimpin laga krusial ini.

Namun kegembiraan itu sirna seketika setelah wasit Thoriq Alkatiri memutuskan untuk meninjau ulang melalui layar VAR.

Hasil pemeriksaan video menunjukkan bahwa Maxwell Souxa sudah berada di posisi offside sebelum melepaskan tembakan mautnya.

Keputusan penganuliran gol tersebut seketika meruntuhkan mental bertanding para punggawa klub kebanggaan warga ibu kota.

Situasi ini dimanfaatkan dengan sangat cerdik oleh Arema FC untuk melancarkan serangan balik yang mematikan.

Hanya butuh waktu singkat bagi tim tamu untuk menghukum kelengahan barisan pertahanan skuad asuhan Mauricio Souza.

Gabriel Silva muncul sebagai aktor utama yang membungkam ribuan suporter tuan rumah melalui aksi-aksi briliannya di lapangan.

Pemain asing tersebut mencetak gol pertama pada menit ke-82 yang membuat kedudukan berbalik menguntungkan bagi Arema FC.

Ia kemudian menggandakan keunggulan pada masa injury time tepatnya di menit ke-90+11 untuk mengunci kemenangan tim.

Hasil pahit ini memutus rekor apik Persija Jakarta yang sebelumnya tidak pernah kalah di kandang sendiri.

Kekalahan ini menjadi noda pertama bagi keangkeran stadion yang biasanya selalu memberikan poin bagi Macan Kemayoran.

Meski sempat ada ketegangan hebat, Marcos Santos tetap mencoba mendinginkan suasana dengan memberikan pujian tulus.

Ia mengakui bahwa kualitas melatih Mauricio Souza tetap berada di level tertinggi di kompetisi liga Indonesia.

"Saya ingin menekankan bahwa Maurício adalah pelatih hebat, orang hebat, saya rasa itu hanya momen kekalahan. Dia adalah pelatih hebat, orang hebat, dan itu adalah momen kekalahan," pungkasnya.

Santos memahami bahwa tekanan besar dari manajemen dan suporter bisa membuat siapa pun kehilangan kendali diri.

Pertandingan ini menjadi bukti betapa tipisnya batas antara sportivitas dan ambisi besar untuk memenangkan sebuah laga.

Kini Arema FC pulang dengan kepala tegak sementara Persija harus segera melakukan evaluasi mendalam pasca kekalahan.

Load More