- Sam Cuntapay, pemain muda keturunan Indonesia-Filipina, kini bergabung tim U-15 Ajax Amsterdam.
- Sebelum sepak bola, ia juara nasional bulu tangkis Belanda kategori ganda putra dan campuran U-13.
- Pemain berusia 16 tahun ini juga telah melakukan debut bersama Timnas Belanda U-15.
Suara.com - Satu lagi pemain keturunan Indonesia yang saat ini tengah merintis karier di Belanda. Ia adalah Sam Cuntapay.
Masih berusia 16 tahun, pemain keturunan Indonesia-Filipina yang lahir di Heiden, Swiss ini sekarang bergabung ke tim U-15 Ajax Amsterdam.
Menariknya, Sam sebelum jadi pesepak bola ternyata mengawali karier di olahraga sebagai pebulu tangkis.
Pada usia 10 tahun, ia sukses menjadi juara nasional bulu tangkis Belanda kategori ganda putra dan ganda campuran U-13.
Namun kecintaannya pada sepak bola akhirnya mengalahkan bulu tangkis. Ia mulai bermain sepak bola sejak usia 8 tahun bersama AS’80, sebelum pindah ke ASC Waterwijk saat berusia 10 tahun.
Perkembangannya semakin pesat ketika bergabung dengan Almere City FC dua tahun kemudian. Setelah dua musim membela Almere City di level akademi, Sam kini resmi melangkah ke jenjang yang lebih tinggi bersama Ajax.
“Saya menantikan musim baru dan bagaimana rasanya bermain setiap pekan melawan pemain-pemain terbaik di Belanda bersama Ajax,” ujarnya dilansir dari Almeredezeweek.nl
Tak hanya sukses di level klub, Sam juga mencatatkan prestasi membanggakan dengan debut bersama Timnas Belanda U-15.
Baginya, pemanggilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Datang dari klub kecil, ia mampu membuktikan kualitas hingga dilirik tim nasional.
Baca Juga: Dihajar China 2 Kali, Media Vietnam Prediksi Timnas Indonesia U-17 Gagal Total di Piala Asia U-17
“Merupakan sebuah kehormatan bisa membela negara. Saya bangga bisa terpilih,” kata Sam.
Remaja kelahiran Almere ini memiliki mimpi besar: bermain di level tertinggi, membela tim nasional senior, dan menjadikan sepak bola sebagai profesi utama.
Meski begitu, ia sadar perjalanan masih panjang. Fokus utamanya musim ini bukan hanya tampil impresif di lapangan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara sekolah dan sepak bola.
Ia mengakui manajemen waktu menjadi tantangan terbesarnya saat ini.
“Menggabungkan sekolah dan sepak bola itu sulit. Saya harus lebih baik dalam hal perencanaan,” ungkapnya.
Kontributor: M.Faqih
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Hasil Timnas Indonesia vs Bulgaria: Gol Penalti Tim Tamu Tumbangkan Garuda
-
Harry Maguire Berpeluang Susul Casemiro Tinggalkan Manchester United
-
Cetak Gol dari Penalti, Timnas Indonesia Tertinggal 0-1 dari Bulgaria di Babak Pertama
-
Casemiro Tolak Permintaan Fans Manchester United untuk Bertahan di Old Trafford
-
Persib Bandung Punya Sembilan Laga Sisa, Jupe: Fokus Laga demi Laga
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Bulgaria: John Herdman Rombak Skuad!
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria di Final FIFA Series 2026
-
Membedah Taktik 4-4-2 Hybrid John Herdman, Efektif Bawa Timnas Indonesia Hajar Bulgaria?
-
Timnas Indonesia Diambang Sejarah Jelang Hadapi Bulgaria di GBK