Bola / BolaTaiment
Senin, 16 Februari 2026 | 15:33 WIB
Royston Drenthe pernah bersinar terang di Eropa. Dari akademi Feyenoord hingga bergabung dengan raksasa Spanyol Real Madrid, kariernya bak cerita dongeng.[Instagram]
Baca 10 detik
  • Royston Drenthe bersinar setelah membawa Belanda U-21 juara Eropa, lalu pindah ke Real Madrid dari Feyenoord.
  • Setelah Madrid, kariernya menurun drastis, ia berkelana di beberapa klub dan juga aktif sebagai rapper.
  • Pada 2025, Drenthe terserang lung emboli dan stroke, kini fokus pemulihan kondisi fisik di usia 38 tahun.

Suara.com - Royston Drenthe pernah bersinar terang di Eropa. Dari akademi Feyenoord hingga bergabung dengan raksasa Spanyol Real Madrid, kariernya bak cerita dongeng.

Drenthe mencuri perhatian sejak debut profesional pada 2006. Kariernya melesat usai membawa Belanda U-21 juara Eropa.

Penampilan impresif itu membuat Real Madrid kepincut, meski baru memainkan 29 laga bersama Feyenoord.

Transfernya ke Santiago Bernabeu pun tak lepas dari drama. Drenthe bahkan menempuh jalur hukum demi memuluskan kepindahannya.

Namun kariernya di ibu kota Spanyol tak bertahan lama. Setelah 46 penampilan di tim utama, ia dipinjamkan ke Hercules pada 2010 dan sejak itu performanya menurun.

Mantan pemain Real Madrid, Royston Drenthe. (Instagram.com/@roystondrenthe)

Setelah meninggalkan Real Madrid, Drenthe berkelana ke berbagai klub, mulai dari Everton, Baniyas Club, Alania Vladikavkaz, hingga kembali ke Belanda bersama Sparta dan Kozakken Boys.

Di luar lapangan, Drenthe juga dikenal sebagai rapper dengan nama panggung Roya2Faces.

Ia sempat berkolaborasi dengan mantan pemain top, Ryan Babel.

Selain itu, ia merilis buku autobiografi yang mengungkap sisi lain kehidupannya, termasuk pengakuan kurang disiplin selama berkarier sebagai pesepak bola.

Baca Juga: Dominik Szoboszlai Bikin Panik Liverpool Usai Sebut Real Madrid Klub Impian Masa Kecil

Dalam kehidupan pribadi, Drenthe adalah ayah dari delapan anak yang lahir dari lima hubungan berbeda.

Sejak 2023, Drenthe bekerja sebagai pendukung layanan dan petugas keamanan di unit High & Intensive Care (HIC) di sejumlah klinik psikiatri di Belanda.

Ia juga sesekali tampil di program televisi dan acara bincang-bincang olahraga.

Pada 2025, publik dikejutkan kabar bahwa Drenthe mengalami lung emboli atau penyumbatan mendadak pada satu atau lebih arteri pulmonalis di paru-paru, sebelum akhirnya terserang stroke.

Meski selamat, ia menghadapi konsekuensi fisik serius.

Melalui program televisi Nog 1 Keer Fit di NPO 3, terlihat Drenthe berjuang keras memulihkan kondisi tubuhnya.

Di usia 38 tahun, ia bertekad bangkit dari fase terberat dalam hidupnya.

Kontributor: Adam Ali

Load More