Bola / Bola Dunia
Selasa, 24 Februari 2026 | 21:41 WIB
Kota Guadalajara, Meksiko, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia 2026, mendadak dilanda gelombang kekerasan kartel narkoba. [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Gelombang kekerasan kartel pecah setelah kematian pemimpin CJNG, memicu kerusuhan brutal di Meksiko.
  • Otoritas menangguhkan pertandingan sepak bola di Guadalajara dan Queretaro akibat memburuknya kondisi keamanan.
  • Kekerasan ini menimbulkan kekhawatiran bagi tuan rumah Piala Dunia 2026 serta dampak buruk pada pariwisata.

Suara.com - Kota Guadalajara, Meksiko, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia 2026, mendadak dilanda gelombang kekerasan kartel narkoba.

Situasi ini memicu kekhawatiran warga menjelang perhelatan akbar yang akan digelar Juni–Juli mendatang.

Kerusuhan pecah setelah pemimpin Kartel Jalisco New Generation, Nemesio El Mencho Oseguera, tewas dalam operasi militer sekitar 130 kilometer dari Guadalajara.

Kematian salah satu buronan paling dicari di Meksiko dan Amerika Serikat itu memicu aksi balasan brutal dari kelompok kriminal.

Bentrok antara kartel dan aparat keamanan dilaporkan menewaskan sedikitnya 57 orang di berbagai wilayah Meksiko, termasuk tentara dan anggota kartel.

Aksi pembakaran bus, penutupan jalan raya di 20 negara bagian, serta perusakan fasilitas umum memperparah situasi.

Akibat kondisi keamanan yang memburuk, otoritas setempat menangguhkan pertandingan sepak bola di Guadalajara dan negara bagian Queretaro.

Ilustrasi kekerasan kartel di Meksiko [Suara.com]

Jalanan kota pun tampak lengang, sekolah diliburkan, dan banyak pelaku usaha memilih menutup toko.

Padahal beberapa hari sebelumnya, pejabat keamanan Jalisco menyatakan Guadalajara dalam kondisi damai.

Baca Juga: Jalanan Kota Meksiko Jadi Arena Peperangan, FIFA Bakal Cabut Status Tuan Rumah Piala Dunia 2026?

Sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Amerika Serikat dan Kanada, Meksiko berupaya memastikan keamanan tetap terjaga.

Pemerintah negara bagian Jalisco akan mengerahkan drone, perangkat anti-drone, serta sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengamankan pertandingan.

Namun, bayang-bayang kekerasan tetap menghantui. Guadalajara tercatat sebagai kota dengan jumlah orang hilang terbanyak di Meksiko akibat kekerasan terkait narkoba.

Data resmi menunjukkan 12.575 orang dilaporkan hilang di Jalisco, lebih dari separuhnya berasal dari wilayah metropolitan Guadalajara.

Dilansir dari Al Jazeera, Seejumlah aktivis keluarga korban orang hilang menyuarakan keberatan atas penyelenggaraan Piala Dunia di kota tersebut.

Mereka menilai perayaan sepak bola kontras dengan penderitaan yang masih berlangsung.

Di sisi lain, sektor pariwisata juga terpukul. Seorang pemandu wisata lokal mengaku membatalkan puluhan jadwal tur akibat eskalasi kekerasan, yang berdampak signifikan pada ekonomi warga.

Kontributor: Adam Ali

Load More