-
Son Heungmin mengisyaratkan bahwa Piala Dunia 2026 kemungkinan besar menjadi turnamen internasional terakhirnya.
-
Kepindahan Son ke klub MLS LAFC didasari motivasi persiapan matang menghadapi Piala Dunia.
-
Kapten Korea Selatan ini menekankan pentingnya filosofi semangat juang (tuhon) demi mengulang sukses 2002.
Suara.com - Kapten Timnas Korea Selatan, Son Heungmin, menatap Piala Dunia 2026 sebagai panggung penutup karier internasionalnya yang legendaris. Bintang LAFC ini bertekad melampaui sekat generasi demi mengulang kejayaan historis semifinalis tahun 2002 silam.
Langkah Son ke Amerika Utara bukan sekadar perpindahan klub, melainkan investasi strategis demi mematangkan persiapan fisiknya. Kehadirannya di Major League Soccer sekaligus menjadi magnet emosional bagi ratusan ribu warga keturunan Korea di Amerika Serikat.
Komposisi skuad berjuluk Taegeuk Warriors kini mengalami pergeseran masif dengan dominasi pemain muda yang masih belia saat Son melakoni debutnya. Dinamika ini menempatkan sang penyerang veteran sebagai jembatan krusial antara tradisi masa lalu dan ambisi masa depan.
Turnamen edisi ke-23 ini bakal terasa emosional mengingat faktor usia Son yang telah menginjak 33 tahun. Ia menyadari kesempatan emas untuk mengukir tinta emas bersama negaranya kini berada di titik nadir.
Pemain yang identik dengan senyuman ini menegaskan komitmennya untuk tampil tanpa beban demi memimpin rekan-rekannya di lapangan. Fokus utamanya adalah menyatukan kembali dukungan kolektif dari seluruh elemen masyarakat Korea.
"Hal pertama yang ada di pikiran saya adalah bahwa ini merupakan impian masa kecil saya. Piala Dunia pertama yang saya tonton – Piala Dunia '98 – saya tidak mengingatnya dengan jelas. Piala Dunia pertama yang benar-benar saya alami adalah Piala Dunia 2002. Saya selalu menanamkan dalam pikiran bahwa saya ingin menjadi pemain sepak bola dan berpartisipasi dalam festival sepak bola akbar seperti itu. Sekarang ini adalah Piala Dunia keempat saya sebagai pemain dan saya menganggapnya sebagai suatu kehormatan nyata untuk memiliki kesempatan lain dalam mewujudkan impian saya," ujar Son Heungmin saat diwawancarai FIFA.
Keputusan Son meninggalkan Tottenham Hotspur menuju LAFC pada Agustus lalu terbukti menjadi katalisator penting bagi antusiasme sepak bola di Los Angeles. Wilayah yang dihuni lebih dari 300.000 warga Korea tersebut kini menjadi basis dukungan domestik kedua bagi sang kapten.
Adaptasi kilat di kompetisi Amerika Serikat memberikan keuntungan tersendiri bagi Son untuk membaca atmosfer pertandingan lokal. Ia berharap magis pelatih Hong Myungbo, yang dahulu memimpin generasi emas 2002, bisa kembali terulang di tanah Amerika.
"Piala Dunia adalah alasan terbesar kepindahan saya. Saya merasa sangat bersemangat. Saya ingin menjalani Piala Dunia hebat lainnya. Jika kami bermain di L.A., maka itu akan lebih baik lagi. Ketika saya pindah, saya bersemangat untuk membawa kegembiraan bagi komunitas Korea dan orang-orang yang tinggal di sana. Mereka membuat saya bangga menjadi orang Korea dan menjadi pemain untuk Korea. Itu sangat berarti bagi saya dan saya selalu ingin memberikan kembali semua yang saya miliki. Itulah mengapa saya selalu melakukan yang terbaik dan bermain dengan senyuman."
Baca Juga: Skuad Timnas Maroko Piala Dunia 2026: Mohamed Ouahbi Boyong 9 Alumni Qatar demi Ulang Sejarah
Menghadapi ekspektasi publik yang tinggi, mantan penggawa Bundesliga ini menepis anggapan bahwa status ikon global menjadi beban mental. Baginya, kunci utama untuk melangkah lebih jauh dari babak 16 besar edisi sebelumnya adalah kesatuan visi.
Son meminta sokongan tanpa henti dari para suporter sebagai bahan bakar utama taktik di lapangan. Ia percaya bahwa sinergi antara pemain dan pendukung akan melahirkan kekuatan yang menakutkan bagi lawan.
"Saya rasa itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh tim sendirian. Semuanya benar-benar harus bersatu menjadi satu. Ucapan masyarakat Korea benar-benar memberikan kekuatan besar kepada para pemain. Untuk mencapai prestasi sehebat itu, setiap orang harus bersatu dalam hati dan pikiran mereka. Ini bisa menjadi Piala Dunia terakhir saya. Saya mengharapkan perjalanan yang indah."
"Saya tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Saya selalu berpikir bahwa saya adalah seseorang yang bisa membawa kegembiraan bagi orang-orang, dan saya tetap rendah hati serta selalu melakukan yang terbaik. Tentu saja, ada rasa tanggung jawab, tetapi itu tidak terasa sebagai beban. Saya sebenarnya merasa sangat beruntung," ungkapnya mengenai tanggung jawab berat yang diembannya.
Kematangan emosional Son hari ini dibentuk oleh kegagalan pahit masa lalu, terutama saat debutnya di Brasil tahun 2014. Kekalahan telak dari Aljazair di masa muda menjadi titik balik krusial yang menumbuhkan mentalitas bertarungnya.
Dari sekian banyak nama yang berlaga satu dekade lalu, kini hanya tersisa Son dan penjaga gawang Kim Seunggyu di dalam tim. Pengalaman panjang tersebut memperkuat keyakinannya pada filosofi tuhon atau semangat juang murni sepak bola Korea.
"Itu selalu menjadi kalimat yang saya dengar ketika saya masih muda dan merupakan kalimat paling bermakna ketika saya bergabung dengan tim. Bahkan sekarang, saya pikir semangat juang adalah salah satu hal terpenting bagi kami. Keterampilan teknis dan kekuatan fisik jelas diperlukan, namun saat-saat di mana kami paling bersinar adalah saat semangat juang itu paling terlihat."
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Mauricio Souza Pergi, 3 Bintang Persija Tulis Pesan Emosional
-
Kabar Duka, Mantan Pemain Southampton Meninggal Dunia di Usia 21 Tahun
-
Pelatih Klub MLS Terang-terangan Ingin Boyong Robert Lewandowski
-
Arsenal Serius Ingin Boyong Morgan Rogers dari Aston Villa
-
Tottenham Hotspur Selidiki Penyebab Badai Cedera pada Musim 2025/2026
-
Jamie Vardy Tinggalkan Cremonese Usai Degradasi ke Serie B Italia
-
Enggan Pensiun, Henrikh Mkhitaryan Ingin Bertahan di Inter Milan Satu Musim Lagi
-
Mariano Peralta Dirumorkan ke Persija Jakarta, Pemilik Borneo FC Buka Suara
-
Bukan Allegri, Pelatih Ini Jadi Kandidat Terdepan Pengganti Antonio Conte di Napoli
-
Mikel Arteta Sabet Manajer Terbaik Premier League Usai Akhiri Puasa Gelar 22 Tahun Arsenal