Bola / Bola Indonesia
Rabu, 25 Februari 2026 | 14:05 WIB
Bek sayap Persebaya, Abu Rizal, dibayangi bek Persija Jakarta, Rezaldi Hehanussa dalam laga lanjutan Liga 1 di Jakarta, Selasa (26/6). [Suara.com/Dimas Angga]
Baca 10 detik
  • Sejumlah eks bintang Timnas Indonesia mengalami penurunan karier drastis akibat cedera parah.

  • Pemain besar seperti Febri Hariyadi dan Rezaldi Hehanussa kini terpaksa membela klub kecil.

  • Ketidakstabilan performa membuat para mantan penggawa Garuda sulit bersaing di level tertinggi liga.

Suara.com - Roda kehidupan di dunia sepak bola profesional Indonesia seringkali berputar dengan sangat cepat dan tidak terduga.

Banyak talenta berbakat yang semula dipuja-puji kini justru harus berjuang keras di klub yang lebih kecil.

Beberapa nama besar yang dahulu menghiasi papan atas kompetisi nasional kini mulai kehilangan sinarnya secara perlahan.

Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor penghambat yang sulit dihindari oleh para atlet profesional tersebut.

Masalah kebugaran fisik dan cedera berkepanjangan menjadi momok utama yang menghancurkan konsistensi performa mereka di lapangan.

Salah satu sosok yang paling disorot adalah Febri Hariyadi yang dahulu merupakan ikon sayap Timnas Indonesia.

Pemain yang identik dengan kecepatan ini sempat menjadi langganan tetap skuad Merah Putih di bawah arahan pelatih.

Tercatat Febri telah memberikan kontribusi nyata dengan mengoleksi dua gol dari 21 penampilan bersama Timnas U-23.

Pada level senior dirinya sukses mencatatkan debut di tahun 2017 dan mengumpulkan total 19 caps internasional.

Baca Juga: 6 Pemain Ini Pasti Dicoret John Herdman Jelang FIFA Series 2026

Sayangnya performa impresif tersebut mulai memudar seiring dengan badai cedera yang menimpanya di Persib Bandung.

Memasuki musim 2023/2024 posisi Febri di skuad utama Maung Bandung mulai tergeser oleh pemain baru lainnya.

Keadaan ini memaksa pemain berusia 30 tahun tersebut untuk mencari suasana baru demi menyelamatkan karier sepak bolanya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya Febri akhirnya setuju untuk dipinjamkan menuju klub Persis Solo.

Langkah ini diambil karena dirinya sudah sangat kesulitan bersaing memperebutkan posisi inti di sektor sayap Persib.

Kini publik menanti apakah kepindahannya ke Solo mampu membangkitkan kembali sentuhan emas yang pernah ia miliki.

Kisah serupa juga dialami oleh Rezaldi Hehanussa yang sempat menjadi bek kiri terbaik di tanah air.

Nama Rezaldi mulai melambung tinggi saat ia menunjukkan kualitas pertahanan yang solid bersama Persija Jakarta dahulu.

Keahliannya dalam bertahan dan menyerang membuatnya menjadi pilihan utama pelatih Luis Milla di skuad nasional junior.

Ia tercatat pernah membela negara di ajang Kualifikasi Piala Asia U-23 2018 hingga perhelatan Asian Games 2018.

Debutnya bersama tim nasional senior pada tahun 2017 sempat diprediksi akan menjadi awal karier yang sangat panjang.

Nahas bagi Rezaldi karena cedera lutut parah menghantamnya dan memaksanya menepi dari lapangan hijau cukup lama.

Meskipun sempat mencoba bangkit dengan bergabung ke Persib Bandung namun masalah kebugaran kembali menghantuinya secara beruntun.

Akibat sulit menembus komposisi utama di Bandung kini Rezaldi harus rela merumput bersama klub Persik Kediri.

Statusnya di klub asal Kediri tersebut hanyalah sebagai pemain pinjaman demi mendapatkan jam terbang yang cukup.

Kondisi fisik yang tidak lagi prima membuatnya harus berjuang ekstra keras untuk kembali ke level tertinggi.

Selanjutnya ada nama Ilham Udin Armaiyn yang merupakan bagian dari generasi emas bersama kapten Evan Dimas.

Keduanya sempat mencuri perhatian publik sepak bola Asia saat memutuskan untuk berkarier di luar negeri bersama.

Ilham Udin dan Evan Dimas pernah menjadi kekuatan utama di klub Malaysia yaitu Selangor FC beberapa tahun lalu.

Sebagai pemain sayap yang potensial Ilham sempat menjadi tulang punggung Timnas Indonesia di level usia yang sangat muda.

Namun ketidakstabilan performa membuat kualitas permainannya terus menurun seiring bertambahnya usia dan persaingan ketat di liga.

Pemain asal Ternate ini tercatat telah mengumpulkan 13 caps bersama Timnas U-23 serta 6 penampilan di level senior.

Setelah sempat berpindah-pindah ke klub seperti Arema FC hingga Malut United ia tetap gagal menunjukkan konsistensi.

Kini di usia 29 tahun Ilham Udin akhirnya terdampar dan memperkuat tim PSBS Biak untuk kompetisi musim ini.

Perjalanan kariernya menjadi bukti nyata betapa sulitnya menjaga performa di puncak tertinggi dalam waktu yang lama.

Ekspektasi besar yang semula dibebankan kepadanya kini perlahan sirna seiring berpindahnya ia ke tim yang kurang diunggulkan.

Terakhir ada sosok Syahrian Abimanyu yang sempat digadang-gadang sebagai dirigen lini tengah masa depan skuad Merah Putih.

Abimanyu memiliki rekam jejak yang mentereng karena sudah menembus tim senior di usia muda bersama Sriwijaya FC.

Kualitas visinya bahkan sempat membuat klub raksasa Malaysia Johor Darul Ta'zim (JDT) tertarik untuk merekrut jasanya secara resmi.

Ia juga pernah merasakan atmosfer sepak bola Australia saat dipinjamkan ke Newcastle Jets beberapa waktu yang lalu.

Di bawah asuhan Shin Tae-yong Abimanyu sempat menjadi pemain andalan dan mencatatkan total 11 caps internasional.

Namun perjalanan karier Abi di usia 26 tahun justru mengalami tren penurunan yang cukup mengkhawatirkan bagi penggemarnya.

Saat ini dirinya harus rela terdepak dari jajaran pemain elite dan bergabung dengan kesebelasan Persik Kediri.

Sayangnya di klub barunya tersebut Abi juga belum mampu mengamankan posisi sebagai pilihan utama dalam setiap pertandingan.

Penurunan ini sangat disayangkan mengingat ia memiliki teknik dan visi bermain yang di atas rata-rata pemain lokal.

Banyak pihak berharap Abimanyu bisa segera menemukan kembali performa terbaiknya demi kembali dipanggil memperkuat Timnas Indonesia lagi.

Load More